Bangunan Bersejarah (Makam Raja-raja Imogiri) yang Roboh oleh Gempa

1347329755212768458




Cukup disayangkan, apabila bangunan bersejarah yang cukup lama umurnya hancur karena gempa. Salah satunya adalah makam Raja-raja Imogiri atau tempat peristirahatan terakhir para Sultan yang pernah memerintah di tanah Jawa. Bangunan ini berumur sekitar tahun 377 tahun, karena makam ini dibangun sekitar tahun 1632 dan dibangun oleh Sultan Agung Hanyakrokusumo. Lokasi makam ini terletak diperbukitan Imogiri kabupaten Bantul. Menurut salah satu legenda makam ini dibangun oleh Sultan Agung atas saran dari Sunan Kalijaga.


Bagi masyarakat Jawa makam Imogiri ini merupakan tempat yang sakral. Tidak sembarangan orang bisa berbuat seenaknya di makam ini. Oleh karena itu bagi masyarakat Jawa, makam ini dianggap wingit atau angker. Tentunya apabila ada pengunjung yang berbuat tidak baik, akan mendapat peristiwa yang fatal. Tempat ini juga menjadi pusat spiritual masyarakat Jawa pada umunya.


13473298411206699416



Sebagai tempat ziarah makam ini banyak dikunjungi orang. Terutama masyarakat Jawa yang menjadikan tempat ini sebagai ziarah spiritual untuk menangkap nuansa mistis. Berbagai aturan diterapkan di lokasi yang dimiliki oleh dua Kesultanan di Jawa, yaitu Keraton Ngayogyokarto Hadiningngrat dan Keraton Surakarta. Aturan ini diterapkan untuk lebih menjaga kekusyukan dan menghormati makam para Sultan. Sebagai tempat yang sakral, bagi masyarakat yang akan memasuki areal makam harus menggunakan pakaian Jawa, yang disesuaikan dengan adat Jogja dan Solo.


Bangunan makam ini cukup unik, karena mencirikan percampuran arsitek Hindhu-Islam. Banyak elemen-elemen Hindhu yang nampak dari gapura yang menyerupai Pura. Hal ini disebabkan oleh pengaruh Hindhu yang cukup dan tertanam kurang kebih 1000 tahun lamanya. Maka saat terjadi peraliran kekuasaan antara Majapahit ke kerajaan Demak, unsur-unsur Hindhu ikut terbawa dan salah satunya nampak dalam percampuran bangunan. Selain terdapatnya unsur Hindhu dalam upacara adat Keraton Jawa, pengaruh Hindhu sebenarnya juga telah bersatu dengan pola kehidupan masyarakat Jawa.


Sekitar 6 tahun lalu kota Jogja dilanda gempa yang berkekuatan 6,8 skala richter. Cukup besar memang sehingga beberapa bangunan yang menjadi bagian dari makam ini ikut hancur. Mengingat usianya yang cukup tua, bangunan ini juga menyimpan sejarah panjang pemerintahan Kesultanan Jawa. Maka dengan mudah saat gempa melanda, bangunan tembok ini juga ikut roboh. Sebagai bangunan bersejarah, makam ini dilindungi oleh undang-undang, sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah daerah. Selain itu bangunan ini menjadi buah mahakarya agung yang dibangun pada abad 16. Bisa dibayangkan oleh kita, bahwa bangunan ini tidak dibangun dengan kerangka baja yang hebat seperti dizaman sekarang. Itulah kehebatan bangsa kita pada waktu itu, bisa membangun sebuah makam dengan arsitektur yang unik. Maka bangunan makam ini menjadi salah satu cagar budaya yang tidak lepas dari kepedulian pemerintah untuk menjaganya. Termasuk juga masyarakat sekitar dapat diminta menjaga kebersihan dan perlindungannya dari orang yang berbuat vandalisme.


134732989623036437


Dengan robohnya bangunan ini akibat gempa, pemerintah melalui Dinas arkeologi setempat mulai mendata bangunan yang rusak. Pemerintah cukup tanggap dengan kondisi yang tidak menguntungkan ini, sebab apabila bengunan ini dibiarkan rusak, justru akan memperparah proses penataan kembali dan biaya yang dibutuhkan menjadi lebih besar. Karena kapan lagi masyarakat akan mengenal sejarah bangsanya, kalau pemerintah tidak peka dengan kondisi realitas yang terjadi. Dengan mengenal sejarah, masyarakat akan terbentuk pola pikir dan lebih dewasa dalam menyikapi peristiwa sejarah.

Adolf Nugroho

No comments: