2 Hadis tentang Kemandirian sebagai Karakter Perempuan di Era Rasulullah SAW

 2 Hadis tentang Kemandirian sebagai Karakter Perempuan di Era Rasulullah SAW

Bersama laki-laki, perempaun menerima seruan Allah sejak hari pertama. Ilustrasi: Ist
Prof Dr Abdul Halim Abu Syuqqah dalam bukunya berjudul "Tahrirul-Ma'rah fi 'Ashrir-Risalah" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Kebebasan Wanita" (Gema Insani Press, 1998) mengelompokkan hadis yang menceritakan tentang kemandirian sebagai karakter perempuan. Hadis tersebut dinukil dari kitab shahih Bukhari dan Muslim .

Pertama, bersama laki-laki, perempuan menerima seruan Allah sejak hari pertama. Hal ini berdasar hadis dari Abu Hurairah. Beliau berkata:

"Ketika Allah menurunkan ayat Wa andzir 'asyiaratakatul aqrabin (peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat), Rasulullah SAW berdiri lalu berkata: 'Hai orang-orang Quraisy, belilah diri kalian, aku tidak bisa membantu kalian dari siksa Allah sedikit pun. Hai Bani Abdi Manaf, aku tidak bisa membantu kalian dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Abbas bin Abdul Muttalib, aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah sesukamu uang/hartaku, tetapi aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, perempuan yang lebih dahulu beriman daripada suaminya. Hal ini berdasarkan hadis dari Abdullah bin Abbas. Beliau berkata:

"Aku dan ibuku termasuk golongan orang lemah/tertindas. Aku dari kalangan anak-anak dan ibuku dari kalangan wanita." (HR Bukhari)

Dalam menguraikan bab ini Bukhari berkata: "Ibnu Abbas r.a. bersama ibunya termasuk di antara orang-orang yang lemah/tertindas. Dia tidak ikut bersama ayahnya dalam menganut agama kaumnya."

Sementara Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan hadis tersebut sebagai berikut: "Nama ibunya Lubabah binti al-Harits al-Hilaliah (diberi gelar Ummul Fadhal, karena al-Fadhal adalah anak tertua dari keluarga Abbas).

Kata-kata: 'Dia tidak ikut bersama ayahnya dalam menganut agama kaumnya,' adalah perkataan pengarang berdasarkan pengamatannya sebab Abbas masuk Islam setelah terjadinya Perang Badar. Namun pendapat ini masih dipertikaikan oleh para ulama. Yang benar adalah bahwa Abbas berhijrah pada awal tahun penaklukan Kota Mekah. Dia datang bersama Nabi SAW, lalu ikut serta dalam penaklukkan tersebut." Wallahu a'lam.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: