Makna Islam dan Iman dalam Hadis tentang Dialog Rasulullah SAW dengan Jibril

 Begini Makna Islam dan Iman dalam Hadis tentang Dialog Rasulullah SAW dengan Jibril

Islam adalah dalam masalah lahir, sedangkan iman adalah masalah batin. Ilustrasi: Istock
Potongan hadis dari Umar bin Khattab ra yang menceritakan tentang dialog Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril tentang Islam, Iman, Ikhsan, dan hari kiamat, ternyata sarat akan pelajaran bagi umat Islam.

Dialog dalam hadis itu antara lain sebagai berikut:

Dia berkata: “Wahai Muhammad, kabarkan kepada saya tentang Islam !”

Rasulullah SAW menjawab: “Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan salat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa Ramadhan, dan melaksanakan haji ke Kakbah kalau engkau memiliki kemampuan.”

Dia berkata: “Engkau benar.”

Kami pun heran padanya, dia bertanya tetapi juga membenarkan. Dia berkata lagi: “Kabarkan kepada saya tentang Iman !”

Nabi SAW menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik maupun takdir buruk.”

Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam bukunya berjudul "Syarah 10 Landasan Agama dari Kalimat Nubuwwah" menjelaskan dalam hadis ini, Nabi Muhammad SAW membedakan antara “Islam” dan “Iman”.

Rasulullah SAW mengatakan tentang Islam: “Engkau bersaksi bahwasanya tidak ada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Kakbah apabila engkau memiliki kemampuan.”

Sementara itu, tentang Iman, beliau bersabda: “Kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman ke pada takdir baik maupun takdir buruk.”

Abu Ubaidah Yusuf mengatakan dari sini dapat kita ketahui bahwa antara Islam dan Iman ada perbedaan jika digabungkan. Islam untuk amalan lahir dan iman untuk amalan batin. Dan iman lebih tinggi derajatnya daripada Islam. Oleh karena itu, para ulama berkata: “Setiap mukmin pasti muslim, namun tidak setiap muslim pasti mukmin.”

Mereka juga berkata: “Apabila kata Islam dan iman digabung maka keduanya memiliki makna yang berbeda, namun jika hanya disebut salah satunya saja maka mencakup lainnya, Islam mencakup iman dan iman mencakup Islam.”

Contoh kaidah ini cukup banyak, seperti lafaz Islam dan iman, lafaz al birr dan at-taqwa, lafaz fakir dan miskin, lafaz iman dan amal saleh. Ibnul Qayyim dalam Risalah Tabukiyyah, berkata: “Ini merupakan kaidah yang mulia. Siapa yang memahaminya dengan baik, maka akan tersingkap darinya berbagai kerumitan yang dialami banyak manusia.”

Contohnya, dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda: “Bebaskanlah dia, karena dia adalah seorang wanita mukminah.” Berarti mencakup muslimah juga.

Lantas, kapan iman dan Islam itu berbeda maknanya? Yakni ketika Islam dan iman disebut bersamaan seperti dalam hadis ini, maka Islam adalah dalam masalah lahir, sedangkan iman adalah masalah batin, seperti juga dalam firman Allah SWT:

Orang-orang Arab Badui berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu.” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( QS Al-Hujurat [49] : 14)

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: