Arafah, Tak Kenal Maka Tak Cinta

Belajar dari wuquf di padang arafah kita dapat menarik benang hikmahnya tentang makna kebersamaan dalam bingkai persaudaraan yang sejati Arafah, Tak Kenal Maka Tak Cinta Ali Akbar bin Aqil
Arafah. Inilah nama sebuah tempat yang tidak asing. Bagi Umat Islam yang pernah menjalankan ibadah haji Arafah adalah sebuah tempat sakral dan penuh kenangan indah. Ia menjadi puncak ibadah haji. “al-Hajjuarafah, Haji itu Arafah.”
Arafah bisa berarti mengenal dan mengetahui. Ada beberapa versi mengapa ia disebut demikian. Sebuah riawayat menyebutkan suatu ketika Jibril membimbing Nabi Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji. Usai mendapat bimbingan, Jibril bertanya, “a`rafta, apakah kamu sudah tahu.” Jawab Nabi Ibrahim, “Iya.” Dari sini tempat tersebut dinamai Arafah.
Versi lain menyebutkan dinamakan Arafah karena menjadi tempat bersua antaraNabi Adam dan Siti Hawa. Setelah sekian lama terpisah mereka dipertemukan kembali di Padang Arafah. Ketika itu, Nabi Adam berada di sebuah negeri yang saat ini disebut India,sementara Hawa berada di tempat yang kini dikenal dengan Kota Jeddah.
Setiap tanggal 9 Dzulhijjah Arafah menjadi tempat pertemuan akbar umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Tentunya mereka datang dengan beragam perbedaan. Ada perbedaan suku bangsa, ras, warna kulit, dan bahasa. Diantara sesama jamaah haji dari Indonesia saja tidak sedikit perbedaan yang ada. Namun mereka digiring oleh Allah Subhanahu Wata’ala melalui wuquf di padang Arafah untuk menyadari bahwa kita adalah umat yang satu, umat Islam, umat yang diutus kepada mereka seorang Nabi dan Rasul, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Di padang Arafah umat Islam belajar tentang sikap saling menghormati perbedaan yang ada dan mengelolanya menjadi sumber energi kekuatan. Kita belajar Berbhineka Tunggal Ika. Setiap tahun kita diingatkan untuk menjaga kekompakan. Latar budaya dan madzhab yang berbeda tidak berarti membuat kita saling bermusuhan.
Haji dan khususnya wuquf di padang Arafah mengingatkan kita kembali akan firman Allah Subhanahu Wata’ala:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS. Al-Hujurat : 13).
Dari ayat di atas dan belajar dari wuquf di padang arafah kita dapat menarik benang hikmahnya tentang makna kebersamaan dalam bingkai persaudaraan yang sejati. Persaudaraan yang tak bisa dan tak boleh lapuk dimakan zaman. Ia berlaku abadi untuk selama-lamanya di sepanjang hayat. Kita yakin bahwa Islam tidak hanya dipeluk oleh umat Islam di Nusantara. Nun jauh di sana, di Benua Afrika, Eropa, Asia, Australia, Amerika, ada saudara-saudara kita. Irama dan gerakannya sama. Sama-sama melantukan kalimat talbiyah yang berisi sikap seorang hamba dalam memuliakan dan mengagungkan Allah. Mengenakan pakaian yang sama. Dan sama-sama berkorban dengan tenaga dan dana yang tak sedikit.Indah sekali.
Persaudaraan seperti inilah yang digambarkan oleh Nabi sebagai persaudaraan yang senasib sepenanggungan. Sakitmu sakitku. Gembiramu gembiraku. Jika ada yang sakit, kita merasakan hal yang sama. Jika ada umat Islam di Myanmar, Tiongkok, Papua, Palestina, Suriah, Afghanistan, Yaman dan sebagainya, yang teraniaya kita merasakan seperti yang mereka rasakan. Jika kita melihat saudara kita sedang dalam keadan lapar, kita mengenyangkannya. Jika mereka dalam keadaan kekurangan, kita datangidan meringankan bebannya. Demikianlah api solidaritas Arafah yang mengajak saling mengenal satu sama lain yang tidak boleh redup.
Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencinta dan menyayang mereka, seperti satu tubuh. Jika ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh didera rasa demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).
Dari Arafah kita belajar untuk saling mengenal dengan cara membuka selebar-lebarnya ruang rasa hormat kala melihat perbedaan. Ada pria dan wanita. Ada suka dan duka. Ada aku dan kamu. Tapi bukan pada perbedaan itu kita terpaku. Dengan bepergian menuju padang Arafah sama halnya kita tengah melakukan perjalanan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang. Dengan pengelanaan sembari mencicipi payahdan pahit getirnya jalan yang kita lalui, akan mampu mengasah ketajam hati, memperkaya batin sekaligus menjadi sarana melakukan proses tazkiyatun nafsi (penyucian diri).
Dari perjalanan ini pula, kita bisa mengais ilmu. Bukalah riwayat para ulama dan imam. Banyak dari mereka mengembara, melewati jalan yang berlika-liku demi mencari ilmu. Mereka menghimpun ilmu dari berbagai negeri yang disinggahi. Hasilnya nyata terasa. Lahirlah para ulama dengan penguasaan ilmu yang luas. Dari padang Arafah kita belajar untuksaling mengisi ilmu, mengais pengetahuan, menghadiri kajian-kajian, majlis-majlis taklim di masjid-masjid kampung, perkantoran, kampus, atau rumah kita sendiri. Kita akan mengenal beragam karakter manusia, adat istiadatnya, bahasanya. Dari situ kita bisa belajar banyak kekayaan khazanah umat Islam.
Entah apa yang terjadi saat ini, khususnya di Tanah Air, jika tidak ulama yang melakukan perjalanan dan pengembaraan ke Nusantra, mendakwahkan agama sehingga kita menjadi umat mayoritas di negeri ini. Bayangkan jika para ulama dari Timur Tengah, India dan lain-lain tidak melakukan pengembaraan ilmiah, membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan, bisa jadi saat ini kita tak mendapat cahaya Islam yang dibawa oleh Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Perkumpulan jutaan umat di Padang Arafah memberi pelajaran untuk siap menghadapi kematian. Kita belajar menjalani prosesi kehidupan pascakematian, dibangkitkan oleh Allah di sebuah padang bernama Mahsyar. Padang Arafah adalah simulasi bagi setiap orang untuk bersiap-siap sebelum menghadapi pertemuan akbar di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.
Maka, mari ber-arafah, saling mengenal. Kita datangi saudara-saudara yang tertindas. Kita ulurkan bantuan. Kita ringakan yang berat, angkat bersama, bergotong royong saling memikul beban. Kita adalah bagian dari umat Islam di negeri-negeri yang jauh maupun dekat. Semangat persaudaraan, saling mengenal, mengisi diri dengan ilmu, dan saling mengingatkan jangan sampai redup. Tidak boleh padam karena hembusan perpecahanyang dilatari sikap fanatic terhadap Ormas, Parpol, dan kelompok. Inilah seklumit pesan amal wuquf di Arafah.*
Penulis adalah pengajar di Pesantren Daruttauhid, Kota Malang

No comments: