Asal muasal Bangsa Jawa, menurut Legenda dan Catatan Sejarah ?

Berdasarkan tulisan Agus Sunyoto, dalam bukunya “Suluk Abdul Jalil”, selepas Bencana di era Nabi Nuh, wilayah Kendhang (Jawa) kedatangan tiga ratus orang pengungsi yang dipimpin Dang Hyang Semar.
Awalnya kedatangan rombongan Dang Hyang Semar ini, ditolak oleh makhluk-makhluk astral yang sebelumnya telah bertempat tinggal di wilayah itu. Namun berkat kegigihan Dang Hyang Semar, akhirnya bangsa manusia bisa berdamai dengan makhluk dunia ghaib.
mahabharata8
Sundaland dan Bangsa Arya India

Pada sekitar tahun 9600 SM, yakni pada masa berakhirnya zaman es, jazirah Sundaland yang berada di sebelah utara Kendhang, tenggelam. Sebagian penduduk Sundaland, kemudian hijrah ke wilayah Kendhang.
Interaksi antara Penduduk Sundaland, dengan anak keturunan pengikut Dang Hyang Semar, kelak menjadi asal muasal leluhur Bangsa Jawa.
Di dalam kisah mahabharata, di tanah Jawa terdapat Kerajaan Pringgadani, yang lokasinya di sebelah timur Kekaisaran Kuru, setelah melewati negeri gajah Pragjyotisha.
Dari Kerajaan Pringgadani ini, kelak akan muncul sosok Pahlawan Mahabharata, yang merupakan putera dari Bima yakni Raden Gatotkaca,
Diperkirakan pada sekitar 5000 tahun yang silam (sekitar 3000 SM), selepas Perang Mahabharata, Pulau Jawa kedatangan bangsa Arya dari India. Kehadiran Bangsa Arya ini, tercatat di dalam silsilah raja-raja Jawa dan Sunda, yang tertulis sebagai keturunan cucu Arjuna, yang bernama Prabu Parikesit.
Menurut catatan sejarah, pada sekitar tahun 2500-1500 SM, Nusantara kedatangan gelombang pendatang dari ras mongoloid serta tahun 300 SM kedatangan pendatang dari Asia Selatan dan Asia Tengah. Kelompok migrasi inilah, yang kemudian mewarnai peradaban di pulau Jawa, mereka berinteraksi dengan penduduk lokal dan membentuk bangsa yang baru.
Bangsa yang baru ini, dikalangan sejarawan dikenali sebagai Bangsa Proto Melayu dan Deutero Melayu, yang saat ini merupakan mayoritas penduduk Jawa pada khususnya dan masyarakat Nusantara (Asia Tenggara) pada umumnya.

 
WaLlahu a’lamu bishshawab

No comments: