Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?

Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?
Lailatul Qadr hanya ada pada bulan Ramadan. Ilustrasi: SINDOnews
Dr Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i mengatakan bahwa lailatul qadar hanya ada pada bulan Ramadan . "Demikian jumhur ulama bersepakat," ujarnya dalam bukunya berjudul "At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu" yang dalam edisi Indonesia menjadi "Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi"

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran…” [ QS al-Baqarah/2 : 185]

Dan firman-Nya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur-an) pada malam kemuliaan.” [ QS al-Qadr/97 : 1]

Menurut Dr Nashir, ulama berbeda pendapat dalam penentuan malam keberapakah dari bulan Ramadan ini. Pendapat yang kuat (ar-raajih) adalah yang dipegang oleh Jumhur (mayoritas) ulama, yaitu pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, dan lebih khusus lagi pada malam-malam yang ganjil.

Dan dalil atas pendapat tersebut adalah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada para Sahabatnya Radhiyallahu anhum untuk lebih giat beramal pada masa tersebut.

Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya, dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah lailatul Qadr pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.”[Shahih al-Bukhari (II/254) kitab ash-Shaum]

Begitu perhatiannya Rasulullah SAW terhadap sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, beliau beri’tikaf, dan menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah.

Dan mengenai ketentuan waktu jatuhnya lailatul Qadr ini terdapat banyak pendapat di kalangan ulama. Namun mengenai indikasi-indikasi terkuat mengenai saat terjadinya lailatul Qadr ini bahwa matahari terbit pada pagi harinya dengan cerah.

Hikmah dari disembunyikannya lailatul Qadr ini dari pengetahuan manusia, –wallaahu a’lam– menunjukkan keagungan seluruh malam di bulan Ramadan, dan agar manusia bersungguh-sungguh dalam berharap untuk mendapatkannya sehingga ganjaran yang diperolehnya semakin besar pula.

Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir berkata, “Adapun hikmah dirahasiakannya lailatul Qadr ini, agar kesungguhan para hamba dalam upaya meraih keutamaannya benar-benar terwujud secara optimal, sebagaimana (hikmah) disembunyikannya waktu-waktu yang dikabulkan pada hari Jum‘at.

Maka, sudah menjadi keharusan bagi kaum muslimin untuk mencari waktu sehingga benar-benar tepat pada lailatul Qadar, kemudian memuliakannya dan menghidupkannya dengan ibadah dan merendahkan diri kepada Allah dengan do’a, zikir dan istighfar serta memperbanyak ibadah-ibadah Sunnah kepada Allah sehingga mereka mendapatkan ridha dari Allah Yang Mahatinggi dan Maha Pemurah serta memberikan ganjaran dan pahala yang sangat banyak.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: