Penyebab Kisah-Kisah Israiliyyat Mewarnai Tafsir Al-Quran

 Berikut Ini Penyebab Kisah-Kisah Israiliyyat Mewarnai Tafsir Al-Quran

faktor semangat para sahabat dan tabiin untuk mengetahui tafsir-tafsir Al-Quran yang belum dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Ilusrasi: Ist
Riwayat israiliyyat masuk ke dalam tafsir bil ma'tsur secara tidak langsung karena persinggungan umat Islam di Madinah dengan umat Yahudi di sekitar Madinah. Ketika Islam datang secara alami terjadi diskusi antara Rasulullah SAW dengan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani ), masuklah sejumlah ahli kitab ke dalam agama Islam, ada yang baik keislamannya ada yang memang karena niatan untuk merusak agama Islam.

Amal Muhammad Abdurrahman Rabî dalam kitab "Al-Isrâîliyyât fî Tafsir ath-Thabarî Dirâsah fi al-Lughah wa al-Mashâdiru al-ʽÎbriyah" mengatakan percampuran antara umat Islam dan ahli kitab, kesamaan sebagian ajaran Islam dengan kitab Yahudi dan Nasrani, uslub gaya bahasa Al Qur'an yang jelas (tafshil) dan terkadang ringkas (îjaz) dalam menjelaskan sesuatu menjadi faktor pendorong untuk masuknya israiliyyat ke dalam riwayat-riwayat. Di samping juga faktor semangat para sahabat dan tabiin untuk mengetahui tafsir-tafsir Al-Qur'an yang belum dijelaskan oleh Rasulullah SAW.

Syaikh Yusuf al-Qardhawi dalam kitab "Kaifa Nata'amal Ma'a Al-Qur'an", menjelaskan Al-Qur'an diturunkan dalam Bahasa Arab dalam dalâlât yang berbeda-beda ada yang sharîh, kinâyah, haqiqah, majâz, khâs, 'am, muthlaq, muqayyad, manthûq, mafhȗm, dan ada yang dipahami dengan isyârah maupun dengan 'ibarah.

Sedangkan manusia berbeda-beda dalam memahami dan mengetahuinya, ada yang tidak mengetahui kecuali makna yang lahir dan dekat, ada yang mengetahui makna yang dalam dan jauh. Bahkan ada yang memahami justru tidak sesuai dengan bentuk maknanya. "Karena itulah umat Islam memerlukan tafsir sebagai penjelas Al-Qur'an agar dapat memahami dengan baik dan mengamalkannya dengan benar," ujar Al-Qardhawi.

Pada mulanya tafsir hanya diriwayatkan dari mulut-kemulut, namun derajat ketelitian, ketsiqahan berbeda-beda setiap masa.

Para sahabat kebanyakan tsiqah, teliti (dhabt), dapat dipercaya (amanah) dalam periwayatan. Kemudian tersebarlah berita yang dibuat-buat (wadhʽ) dan kebohongan (kadzib) pada masa tabiʽin karena hawa nafsu dan kepentingan kelompok hingga tercampurlah antara yang benar dan dusta antara yang asli dan yang palsu.

Darmaizar Arif dalam tesisnya berjudul "Israiliyyat dalam Kisah-Kisah Para Nabi" mengatakan masa kodifikasi (tadwin) dimulai pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H), ketika beliau meminta para ulama untuk mengumpulkan hadis-hadis yang sahih. Pada masa itu tafsir masih termasuk dalam bab pembahasan hadis, setelah itu barulah tafsir terpisah dari hadis dan berdiri sendiri.

Menurut Darmaizar Arif, sebenarnya israiliyyat telah merembes masuk pada dua masa di atas, pertama, masa periwayatan pada masa sahabat dengan jumlah sedikit dan berkembang secara luas pada masa tabi'in ketika banyaknya ahli kitab yang masuk ke dalam Islam. Kedua, pada masa kodifikasi tadwin.

Ketika masa kodifikasi dimulai riwayat-riwayat hadis mulai dibukukan, secara tidak langsung masuklah riwayat-riwayat isrâîliyyât ke dalam kitab-kitab ulama Islam. Kitab-kitab ini kemudian diwarisi oleh generasi selanjutnya dan terus dikutip dalam rangka penyebaran ilmu-ilmu Islam hingga sampai pada generasi kita saat ini.

"Seperti kitab tafsir Muqâtil bin Sulaimân, tafsir ath-Thabarî dari tafsir-tafsir generasi awal umat Islam," sebutnya.

Dalam pandangan Ibnu Khaldun dalam "Muqaddimah", masuknya israiliyyat dalam kitab-kitab generasi awal umat Islam karena bangsa arab bukanlah ahli kitab dan tidak memiliki pengetahuan tentang itu.

Kebanyakan mereka adalah kaum badui dan tidak bisa membaca (ummiyah), ketika mereka tertarik kepada pengetahuan akan sesuatu yang memang secara fitrah ada dalam diri manusia tentang sebab-sebab penciptaan, awal penciptaan dan rahasia eksistensi, maka mereka bertanya kepada ahli kitab sebelumnya dan mengambil manfaat darinya, yaitu kaum Yahudi dan kaum nasrani.

Sayangnya orang-orang Yahudi di antara orang-orang Arab saat itu juga adalah orang badui seperti kebanyakan orang arab dan orang Yahudi itu sendiri, tidak mengetahui tentang Taurat kecuali apa-apa yang diketahui oleh kebanyakan orang (awam) Yahudi.

Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Himîr yang memeluk agama Yahudi, ketika mereka masuk Islam pengetahuan mereka tentang ajaran Yahudi tetap ada pada diri mereka (seperti pemahaman tentang awal penciptaan) yang kemudian menimbulkan bencana dan pertentangan yang dasyat.

Misalnya Wahab bin Munbih, Abdullah bin Salâm, maka dipenuhilah kitab tafsir dengan penafsiran israiliyyat.

Muhammad Suhail Thuqqusy dalam kitabnya "Târikh al-Arab Qabla al-Islam" menambahkan orang-orang Himîr adalah mereka yang dinisbahkan kepada Himîr bin Abdus Syams Sabâ' bin Yasyjab bin Ya'rab bin Qahthân, salah satu raja dari kerajaan Yaman kuno kerajaan himiriyah.

Suku bangsa Himîr adalah suku bangsa yang mendiami Jazirah Arab selatan yaitu daerah Yaman yang memeluk agama Yahudi. Suku bangsa Himir juga dikenal dengan nama tubâba'h.

Menurut Ibnu Mandzur mereka dikenal dengan istilah ini karena mereka saling mengikuti satu sama lain, setiap satu orang dihancurkan maka yang lain akan menggantikannya atau banyaknya orang Himîr yang mengikuti rajanya dan berjalan mengikuti di belakangnya. Al-Qur'an juga merekamnya dalam QS Ad-Dukhan ayat 37: “Apakah mereka (kaum musrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba' dan orang-orang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa” (QS. Ad-Dukhan [44]:37).

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: