Kisah Pemikir Yahudi Eropa Menyokong Paham Sesat Thuraniyah di Ottoman

 Kisah Pemikir Yahudi Eropa Menyokong Paham Sesat Thuraniyah di Ottoman

Sultan Abdul Hamid II dalam film Payitath. Ilustrasi: YouTube
Pada era penguasa Ottoman atau Utsmani, Sultan Abdul Hamid II , (berkuasa 1876-1909) muncul gerakan Kesatuan dan Pembangunan. Pemikiran yang berkembang di dalam organisasi ini adalah penekanan kembali tentang paham-paham Thuraniyah pada level internal dan eksternal.

Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya berjudul "Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah" (Maktabah al-Iman, 2011) menjelaskan Thuraniyah ini mengisyaratkan pada asal keturunan asli orang-orang Turki . Thuraniyah adalah penisbatan pada gunung Turan yang berada di kawasan Timur Laut Iran .

Di dalam organisasi ini berkembang keras orientasi dan pandangan bahwa Turki adalah umat paling awal dan paling baik di muka bumi serta bangsa yang memiliki peradaban paling awal.

Mereka dan ras Mongolia adalah satu adanya. Maka wajib mereka kembali menjadi satu kembali. Mereka kemudian menyebutnya sebagai Pan-Thuranisme.

Mereka tidak hanya membatasi dirinya pada orang-orang Turki yang berada di Siberia, Turkistan, Persia, Kaukaz, Anatalia dan Rusia. Semboyan mereka adalah antiagama dan meremehkan Pan-Islamisme, kecuali jika menyangkut kepentingan nasionalisme Thurani. Sehingga dengan demikian, saat itu ia hanya akan menjadi sarana dan bukan tujuan.

lni semua berarti bahwa gerakan ini menyerukan pada akidah-akidah paganistik Turki lama, seperti penyembahan pada berhala lama Turki yang bernama Pozuqurat (Serigala Putih-Hitam) yang mereka lukis di atas perangko.

Kemudian mereka mengarang lagu-lagu untuknya dan mewajibkan tentara untuk berbaris menyanyikannya tiap kali menjelang Maghrib. Seakan-akan mereka mengganti posisi salat dengan penghormatan pada serigala. Suatu tindakan keterlaluan tentang nasionalisme mereka sehingga mengalahkan rasa keislamannya.

Mereka selalu menyebut-nyebut para pahlawan mereka yang ada dalam sejarah seperti Atlu, Thughrak, Jenghis Khan, Timur Lenk. Bahkan gerakan Thurani terlalu ekstrim sehingga mereka mengatakan, "Kami adalah orang-orang Turki, Kakbah kami adalah Thuran.”

Mereka selalu mengagung-agungkan Jenghis Khan dan sangat kagum terhadap penaklukan-penaklukan yang dilakukan orang-orang Mongolia. Mereka sama sekali tidak pernah mengingkari kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang Mongolia itu.

Mereka sengaja menciptakan lagu-lagu yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman Jenghis Khan dengan tujuan, untuk mengokohkan kekaguman dan mengangkat rasa kebanggaan mereka dengan pemimpin mereka.

Gerakan ini dibidani oleh Payakok Alibi, Yusuf Aktsur, Jalal Sahir, Yahya Kamal, Hamdallah Shubhi, Muhammad Amin Beik sang penyair, dan masih banyak lagi sastrawan-sastrawan dan para pemikir, serta para anak muda Turki yang baru tumbuh berkembang.

Pengaruh Yahudi terhadap gerakan Thuraniyah demikian tampak dalam masalah ini. Sebagaimana yang disebutkan oleh Niyazi Barkas dalam bukunya Al-Mu’asharahfi Turkiya (Modernisasi di Turki):

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi Eropa dan Yahudi lokal yang berada di wilayah Utsmani selama dua abad --abad kesembilan belas dan dua puluh-- telah memainkan peran yang demikian besar dalam menjangkarkan gelombang gerakan Thuraniyah."

"Para pemikir Yahudi di Barat semisal Lumali David, Lion Kahun, Armiyuniyus Pambari dengan penuh semangat mengabdikan diri mereka untuk menuliskan tentang pemikiran nasionalisme Thurani ini. Sebagaimana kalangan Yahudi Utsmani seperti Karasawa, Muiz Kuhin dan Abraham Ghalanati juga memiliki peran yang tidak kecil dalam mem-booming-kan Organisasi Persatuan dan Pembangunan."

Maka tidak aneh, saat gerakan ini baru saja berhasil menumbangkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, mereka langsung menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan.

Orang-orang Yahudi tersebut, selalu mendatangi orang-orang yang terlibat dalam organisasi itu dengan memboyong semua keinginan mereka, dengan syarat hendaknya mereka mengaku bahwa Palestina adalah tanah air orang-orang Yahudi.

Niyazi Barkas menyebutkan nama Yahudi Muiz Kuhin yang disifati oleh Rene Belo sebagai berikut:

Pertama, sesungguhnya Kuhin adalah peletak pemikiran nasionalisme Thurani di dalam pemerintahan Utsmani.

Kedua, sesungguhnya buku Muiz dianggap sebagai "Kitab Suci" dalam kebijakan politik gerakan Thurani.

Muiz-Yahudi ini demikian aktif dalam mengenalkan gerakan Kesatuan dan Pembangunan di media-media Eropa, karena dia memiliki kemampuan bahasa lbrani dan Turki serta beberapa bahasa barat lainnya. Awalnya dia memulai tulisannya dalam sebuah makalah berbahasa Perancis yang beriudul "Bangsa Turki Mencari Ruh Kebangsaan."

Kuhin memiliki andil yang sangat besar dalam merencanakan politik rasisme Thurani yang menjadi jalan hidup organisasi Persatuan dan Pembangunan. Kebijakan politik ini merupakan kebijakan yang telah menyesakkan bangsa-bangsa Utsmani dan telah menimbulkan permusuhan di kalangan mereka.

Yahudi ini tidak henti-hentinya dan tidak pernah lelah dalam menyebarkan pemikiran nasionalisme Turki untuk mencabik-cabik pemerintahan Utsmani.

Dia menulis tiga buku yang kemudian dijadikan "bibel" oleh organisasi Persatuan dan Pembangunan. Judul buku ialah; "Keuntungan Apa yang Akan Diperoleh Turki dari Perang Ini", "Thuran dan Politik Turkiisasi." Penulisnya juga telah memberikan andil dalam penulisan pemikiran Kemalisme daam bukunya "Kemalisme", dan Spirit Turki yang banyak mengembangkan semangat rasisme Turki.

Gerakan Persatuan dan Pembangunan ini telah mendorong semangat nasionalisme Turki di bawah mimpi-mimpi Thuraninya. Mereka menyerukan pada apa yang disebut dengan nation, undang-undang dan kebebasan. Semua paham ini merupakan paham yang sangat asing dalam pemerintahan Utsmani. Di dalamnya tergabung sejumlah pemuda terpelajar Turki ditambah dengan Yahudi Dunamah. Sedangkan tujuan utama mereka adalah untuk menggulingkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II.
(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: