Kisah Prajurit Muslim Tetap Sholat Kendati Anak Panah Menancap di Tubuhnya

Kisah Prajurit Muslim Tetap Sholat Kendati Anak Panah Menancap di Tubuhnya
Seorang anggota pasukan muslim dari kaum Anshar ini tetap melanjutkan sholatnya ketika musuh memanahnya sampai tiga kali. (Foto/Ilustrasi : Wikiart)
Seorang anggota pasukan muslim dari kaum Anshar ini tetap melanjutkan sholatnya ketika musuh memanahnya sampai tiga kali. “Saya sedang membaca surat dari Al-Qur'an, dan saya telah memulai membacanya dalam sholat, maka saya tidak mau memutuskan bacaanku," ucapnya.

Imam Ibnul Jauzi dalam bukunya berjudul "Uyun Al-Hikayat Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawodir Az-Zahidin" mengutip Jabir bin Abdillah, menceritakan kesungguhan para sahabat Rasulullah SAW dalam beribadah. Berikut kisahnya:

Kami berjalan bersama Rasulullah SAW dalam satu peperangan, kemudian kami menyerang salah satu rumah seorang musyrikin, dan kami menawan seorang istri kalangan musyrikin itu. Kemudian Rasulullah bergerak pulang.

Setelah itu datanglah orang kafir itu ke rumahnya, dan dia mendapatkan penjelasan dari tetangganya tentang apa yang telah terjadi dengan keluarganya. Maka dia pun bersumpah tidak akan pulang sebelum mengalirkan darah para sahabat Nabi.

Ketika Rasulullah SAW sampai di suatu jalan, maka beliau turun ke salah satu lembah yang ada, dan selanjutnya bersabda, “Siapakah dua orang yang mau menjadi petugas jaga malam ini, sehingga kita tidak disergap musuh?”

Seorang lelaki dari Anshar dan seorang dari kalangan Muhajirin berkata, “Kami berdua yang akan berjaga pada malam ini, wahai Rasulullah.”

Keduanya pun berjalan ke puncak lembah, tanpa ditemani pasukan. Sahabat dari kalangan Muhajirin berkata kepada sahabat dari Anshar, “Apakah engkau siap menjaga di awal malam, agar nanti saya menjaga di akhir malam? Atau engkau mau menjaga di akhir malam sementara saya menjaga di awal malam?”

Sahabat dari kalangan muhajirin berkata, “Silakan engkau menjaga di awal malam, biar nanti saya menjaga di akhir malam.”

Maka sahabat dari muhajirin pun tidur, sementara sahabat dari kalangan Anshar menjaga malam. Dia pun mengisi waktunya dengan sholat malam dan membaca satu surah dari Al-Qur'an.

Ketika dia sedang khusyu membaca Al-Qur'an, datanglah lelaki dari perempuan yang telah ditawan. Saat dia melihatnya sedang sholat, tahulah dia bahwa dia adalah penjaga pasukan. Karena itu, dia segera menembakkan satu anak panahnya ke arahnya.

Sahabat tersebut ketika terkena panah, dia segera mencabutnya dan meletakkannya di tanah. Sementara dia tetap berdiri sholat. Dia sama sekali tidak bergerak karena tidak mau memutus bacaan Al-Qur'an.

Kemudian orang kafir itu kembali menembakkan anak panah lainnya. Dan sahabat itu pun kembali mencabutnya dan meletakkannya di tanah, sementara dia terus berdiri khusyu' membaca surat yang sedang dia baca dalam sholatnya. Dia tidak bergerak karena tidak mau memutus bacaannya.

Selanjutnya orang kafir itu kembali menembakkan anak panahnya ke tubuhnya, dan sahabat itu pun kembali mencabut anak panah itu. Kemudian dia ruku' dan sujud.

Selesai sholat, dia berkata kepada temannya yang sedang tidur menunggu giliran berjaga, “Bangunlah. Sekarang giliranmu?"

Sahabat dari Muhajirin pun duduk. Ketika itulah orang kafir tadi datang. Dan ketika dia melihat sahabat yang berjaga ada dua orang, dia pun melarikan diri.

Sementara itu sahabat dari Anshar mengeluarkan darah dari tubuhnya, akibat luka terkena panah orang kafir tadi. Menyaksikan itu, sahabat dari Muhajirin berkata kepadanya, “Semoga Allah mengampuni dosamu! Mengapa engkau tidak membangunkanku sebelum orang kafir itu memanahmu?"

Dia menjawab, “Saya sedang membaca surat dari Al-Qur'an, dan saya telah memulai membacanya dalam sholat, maka saya tidak mau memutuskan bacaanku. Dan demi Allah, jikalah bukan karena khawatir membuat penjagaan pasukan Islam menjadi kendur dan tertembus musuh, dan karena saya mendapat perintah dari Rasulullah SAW, niscaya jiwaku sudah tercabut dari tubuhku, sebelum saya memutus bacaanku itu."
(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: