Fathimah dari Nisyapur Sufi Perempuan yang Menikah dan Ahli Makrifat

Sufi Perempuan yang Menikah dan Ahli Makrifat
Fathimah adalah sosok perempuan sufi yang menonjol di antara perempuan sufi yang menikah. Keberadaan sufi perempuan ini, menunjukkan bahwa para perempuan sufi tidak semuanya menjalani hidup dengan tidak menikah. Foto ilustrasi/ist
Tidak banyak tokoh sufi perempuan yang begitu populer di dunia. Namun, sosok perempuan sufi ini merupakan sosok yang mempunyai keteguhan hati, independen , percaya diri, dan begitu mendalam dalam mempelajari tradisi-tradisi tasawuf .

Ia adalah Fathimah dari Nisyapur. Fathimah yang lahir pada 233 H adalah seorang sufi perempuan yang hidup satu zaman dengan Dzu Nûn al-Misrî dan Abû Yazîd al-Bustâmî. Ia termasuk salah satu ahli makrifat terbesar pada zamannya, sehingga Abu Yazid al-Busthomi memujinya. Dzun-Nun al-Mishri meminta pendapatnya tentang berbagai permasalahan .

Dalam buku 'Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari', Abu Abdurrahman as Sulami menyebutkan bahwa Fathîmah tumbuh besar dalam keluarga tertua di Khurasan. Ia menghabiskan waktunya dengan beribadah di Makkah. Ia juga mungkin pernah pergi ke Yerusalem dan kembali lagi ke Mekah. Fathimah meninggal pada saat melaksanakan ibadah umrah.

Dikisahkan suatu ketika Fathimah mengirim hadiah kepada Dzun-Nun al-Mishri, tetapi hadiah tersebut dikembalikan oleh Dzun-Nun al-Mishri sambil berkata: “Menerima hadiah dari perempuan adalah tanda kehinaan dan kelemahan ”. Kemudian Fathimah menjawab: “Tidak ada sufi di dunia ini yang lebih hina daripada orang yang meragukan motif sufi lainnya”. Dalam artian, seorang sufi sejati tidak melihat penyebab sekunder, tetapi selalu mengacu pada pemberi yang abadi yaitu Tuhan.

Dalam riwayat lain, diceritakan suatu ketika Dzun-Nun al-Mishri dan Fathimah bersama-sama berada di Yerussalem. Kemudian Dzun-Nun al-Mishri berkata, “Nasihatilah aku”. Kemudian Fathimah berkata kepadanya: “Biasakanlah hidup jujur, dan paksalah dirimu dalam tindakan dan kata-katamu”.

Dalam riwayat yang lain, Dzun-Nun al-Mishri menjelaskan bahwa Fathimah pernah berkata:

“Orang yang beramal demi Tuhan, sementara berkeinginan menyaksikan-Nya adalah seorang makrifat, sedangkan orang yang beramal dengan harapan Tuhan akan memperhatikannya adalah seorang yang beriman tulus”.

Dzun-Nun al-Mishri juga beberapa kali memuji Fathimah, beliau mengatakan, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih utama daripada seorang perempuan yang aku temui di Makkah, yang bernama Fathimah an-Naisaburiya. Dia biasa membicarakan berbagai permasalahan yang berkenaan dengan makna Alquran, dengan cara yang mengagumkan. Dia adalah wali dari sahabat-sahabat Allah swt, dan dia juga guruku”.

Selain Dzun-Nun al-Mishri, tokoh sufi lain yang pernah memberikan komentar terhadap sosok Fathimah adalah Abu Yazid al-Busthomi. Beliau mengatakan:

“Sepanjang hidupku, aku baru menemukan seorang laki-laki dan satu perempuan sejati, perempuan itu adalah Fathimah an-Naisaburiya. Setiap kali aku memberinya pengetahuan tentang salah satu maqam spiritual, dia menerimanya seolah-olah dia telah mengalaminya sendiri”.

Suatu ketika suami Fathimah yang bernama Ahmad bin Khudruya menampakkan sebuah kecemburuan, karena Fathimah membangun persahabatan yang begitu intens dengan dua tokoh sufi di atas. Kemudian Fathimah mengatakan kepada suaminya, “Kau adalah karib dengan diri alamiahku, sedang Abu Yazid dan Dzun-Nun dengan jalan spiritualku”.

Fathimah adalah sosok perempuan sufi yang menonjol di antara perempuan sufi yang menikah. Keberadaan sufi perempuan ini, menunjukkan bahwa para perempuan sufi tidak semuanya menjalani hidup dengan tidak menikah.

Sebuah pernikahan yang dilakukannya, juga tidak membuatnya abai dengan jalan spiritual. Dia menjalani perannya sebagai seorang istri, dan pejalan rohani dengan baik. Di mana dua hal tersebut berjalan bersamaan, dan tak saling menghapuskan satu sama lainnya. Bahkan dia juga akhirnya menjadi pembimbing spiritual bagi suaminya.

Dalam hidupnya, sufi perempuan ini menghabiskan waktunya untuk beribadah di Makkah, dan juga kadang di Yerussalem dan kembali ke Makkah sampai akhir hayatnya. 
Wallahu A'lam
(wid) Widaningsih

No comments: