Kisah Syeikh Abu Bakar Syatha dan Ijazah Nama “Haji Achmad Dachlan”

KH Ahmad Dahlan - Kitab I’anah Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in
Muhammad Darwisy bermulazamah dan mengambil banyak disiplin keilmuan termasuk qiraah al-Qur’an kepada Syeikh Abu Bakar Syatha


 ULAMA adalah pewaris para Nabi. Hadits inilah yang dipegang kuat Muhammad Darwisy Syeikh Abu Bakar Syatha saat di Kota Suci Makkah al Mukarramah. Kepada Syeikh Bakar Syatha inilah, Darwisy ‘meminum telaga ilmu’ yang kelak mengamalkanya di Indonesia.

Mengenal Sayyid Bakri Syatha al-Masyhur

Sayyid Abu Bakar Syatha seorang tokoh ulama besar yang nama lengkapnya ialah al-‘Allamah Abu Bakar Utsman bin Muhammad Zainal Abidin Syatha al-Dimyathi al-Bakri. Beliau lahir di Makkah tahun 1266 H/1849 M. Beliau berasal dari keluarga Syatha, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya.

Sayyid Abu Bakar seorang ulama besar yang bermukim di Makkah, sekaligus gurunya ulama-ulama berdarah Melayu, India, Pakistan, dan sebagian besar orang Makkah dan Madinah. Bagi para santri Indonesia yang belajar di Makkah dan Madinah kala itu, nama beliau sangat mashur.

Sayyid Abu Bakar Syatha merupakan seorang ulama Madzhab Syafii yang mengajar di Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah pada permulaan abad ke 14 H. Beliau adalah salah satu dari ribuan tokoh ulama Ahlussunnah wal Jamaah ‘Asya’irah wal Maturidiyyah yang menjadi rujukan ulama berbagai belahan dunia, khususnya Nusantara.

Sayyid Abu Bakar Syatha meninggal dunia pada tanggal 13 Dzulhijjah tahun 1310 H/1892 M setelah menyelesaikan ibadah Haji. Usia beliau memang tidak panjang (hanya 44 tahun menurut hitungan Hijriyyah dan kurang dari 43 tahun menurut hitungan Masehi). Akan tetapi umur beliau penuh manfaat yang sangat dirasakan umat Muslim berbagai belahan dunia.

Jasanya begitu besar, dan peninggalan-peninggalannya, baik karya-karya, murid-murid, maupun anak keturunannya, menjadi saksi tak terbantahkan atas kebesaran ilmu beliau. Peninggalan tertulis yang menjadi “magnum opus” beliau ialah Kitab I’anah Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in.

Kitab I’anah Ath-Thalibin merupakan syarah kitab Fath Al-Mu’in. Kedua kitab ini termasuk kitab-kitab fiqih Syafi’i yang paling banyak dipelajari dan dijadikan pegangan dalam memahami dan memu¬tuskan masalah-masalah hukum.  Sedangkan peninggalan ideologis berupa “rijal” adalah seorang murid yang bernama KH Achmad Dachlan yang mencerahkan dunia melalui Persyarikatan Muhammadiyah.

Kisah Thalabul Ilmi

Pada tahun 1889an, yaitu beberapa bulan setelah menikah dengan Siti Walidah, Mohammad Darwisy (nama asli KH Ahmad Dahlan) berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil berniat memperdalam ilmu agama Islam di sana. Tradisi ini sebagaimana layaknya orang pergi haji masa itu.

Selama sekitar delapan bulan beliau memperdalam ilmu agama kepada para syekh. Mengingat sebelumnya di tanah air sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, maka dia mendapat banyak tambahan pengetahuan agama secara lebih mudah. Salah satunya ialah Sayyid Abu Bakar Syatha.

Muhammad Darwisy bermulazamah dan mengambil banyak disiplin keilmuan termasuk qiraah al-Qur’an kepadanya, ta’dzim sebagai seorang murid sangat diperhatikan oleh beliau.  Muhammad Darwisy sangat dekat dan menjadikan beliau sebagai qudwahnya dalam berbagai hal baik manhaj beragama maupun akhlak hingga menjadi salah satu murid yang amat dicintainya.

Hal ini ditegaskan dalam buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi yang ditulis oleh MPI PP Muhammadiyah halaman 4, bahwasannya KH Dahlan mendalami manhaj Ahlussunnah wal Jamaah dalam Ilmu ‘Aqaid, kitab Madzhab Syafi’i dalam Ilmu Fiqh dan dari Imam Ghazali dalam ilmu tasawuf.

Hal ini sesuai dengan gurunya tersebut karena kedekatannya inilah Muhammad Darwisy mendapat perintah gurunya tersebut untuk berganti nama baru, yaitu Haji Achmad Dachlan. Sebagai seorang murid tentunya Muhammad Darwisy menyetujuinya, karena sesuatu pemberian dari guru itu berbarokah. Dengan inilah beliau mendapatkan ijazah nama baru dari Sayyid Bakri Syatha.

Sekembalinya dari haji dan belajar agama kepada para syekh di Makkah itu, Haji Achmad Dachlan kemudian membantu ayahnya memberi pelajaran agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Besar Kauman. Beliau mengajar pada waktu siang bakda Dhuhur dan sesudah Maghrib sampai Isya.

Ba’da Ashar, beliau ikut mengaji kepada ayahnya yang memberi pelajaran kepada orang-orang tua. Jika ayahnya berhalangan, beliau diminta menggantikannya, sehingga lama-lama Haji Achmad Dachlan pun dipanggil Kiai. Semua muridnya, baik yang anak-anak maupun orang tua, memanggilnya Kiai. Sejak saat itu beliau dikenal sebagai Kiai Haji Achmad Dachlan.

Dari kisah inilah kita pahami bahwasannya KH Achmad Dachlan begitu memahami nilai seorang guru dalam kehidupannya. Apapun beliau lakukan demi manggapai ridha gurunya hingga mengubah nama beliau taat dengannya.

Hal inilah yang beliau tanamkan kepada para murid-muridnya yang menjadi penerusnya dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Hal ini bukanlah berlebihan karena telah menjadi budaya yang dilakukan para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sebagai jumhur ulama yang merepresentasikan Islam secara umum yang musalsal hingga Rasulullah ﷺ.

Taklim seperti inilah yang diistilahkan oleh Sayyidi Syekh Dr. Muhammad bin Ali Ba’athiyah sebagai “taklim abawy”.
Sebagai penutup marilah merenungi perkataan Sayyiduna Ali Bin Abi Thalib dalam hal memuliakan guru dengan seksama, beliau berkata: ”Aku adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba.” Wallahua’lam bishawab.*/ Muhammad Arsyad Arifi, Ketua PCIM Yaman

No comments: