Misteri Jendela di Depan Makam Nabi Muhammad SAW yang Selalu Terbuka sejak 1.400 Tahun Silam

Misteri Jendela di Depan Makam Nabi Muhammad SAW yang Selalu Terbuka sejak 1.400 Tahun Silam
Jendela yang selalu terbuka hampir 1400 tahun lalu dan tidak pernah ditutup ini menghadap langsung makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi. Foto andryanto wisnuwidodo/SINDOnews
Misteri jendela yang selalu terbuka menghadap langsung makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.Jendela besar itu selalu terbuka dan tak pernah tertutup sejak 1.400 tahun yang lalu.

Sindonews menyempatkan untuk mengabadikan jendela tidak pernah tertutup tersebut saat menyampaikan salam perpisahan kepada Rasulullah SAW di tengah berziarah di Masjid Nabawi . Hingga kini, tak seorang pun berani menutup jendela itu.

Konon, jendela yang selalu terbuka itu mengabadikan sebuah janji seorang ayah kepada putrinya. Para peziarah tak mengetahui mengapa jendela besar itu selalu terbuka.

Kisah jendela yang selalu terbuka di belakang Makam Nabi SAW berawal pada saat perluasan Masjid Nabawi yang kedua. Peristiwa itu terjadi pada tahun 17 H. Saat itu jumlah kaum Muslimin meningkat tajam karena meluasnya wilayah kekuasaan Islam atau yang dikenal dengan istilahfutuhat.

Para peziarah ke Masjid Nabawi membeludak. Masjid Nabawi pun tak mampu lagi menampung jemaah. Karena itu, Khalifah Umar bin al-Khaththab menginisiasi perluasan masjid.

Namun, sang Khalifah menemukan kendala saat perluasan Masjid Nabawi. Kendala itu keberadaan rumah putri sang Khalifah sendiri, Hafshah Binti Umar.

Hafshah adalah Ummul Mukminin, salah seorang istri Rasulullah SAW. Rumah Hafshah Binti Umar berada persis bersebelahan (bagian selatan) dengan Makam Nabi. Di tempat itulah para peziarah berhenti untuk mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW.

Tempat itu adalah kamar Hafshah. Di tempat itulah Hafshah dahulu menemani Rasulullah SAW saat tidur bersamanya. Namun, untuk kepentingan perluasan, kamar yang penuh kenangan bersama Rasulullah SAW itu harus dirobohkan.

Bagaimana cara membujuk Hafshah agar mau merelakan kamar itu untuk perluasan masjid. Maukah Hafshah Binti Umar pindah ke tempat lain, meninggalkan tempat yang penuh kisah bersama Baginda Rasul?

Khalifah Umar bin al-Khaththab menemui putrinya Hafshah untuk menyampaikan rencana tersebut. Hafshah menangis sekeras-kerasnya dan menolak untuk meninggalkan rumahnya.

Sang Khalifah tak mampu meyakinkan putrinya. Setelah dua hari berlalu, Khalifah Umar kembali menemui sang putri. Namun, Hafshah tetap bersikukuh menolak rencana itu. Ia enggan meninggalkan tempat dahulu ia bersama sang mulia, Rasulullah SAW.

Para Sahabat pun mulai bermusyawarah untuk mencari cara yang dapat melunakkan hati putri Khalifah Umar. Semua usulan itu ditolak oleh Hafshah. Ia tetap ingin tinggal di kamar yang hanya berbatas tembok dengan Makam Rasulullah SAW.

Saat Aisyah, istri Nabi SAW, dan para tokoh Sahabat ikut serta memberikan saran, Hafshah tak bergeming dengan keputusannya.Setelah situasi mereda beberapa malam, datanglah Umar beserta putranya Abdullah menemui Hafshah.

Pada pertemuan kali ini hati Hafshah mulai melunak. Ia menerima usulan rencana perluasan Masjid Nabawi mengenai rumahnya. Namun ia mengajukan syarat agar ia bisa menempati kamar saudaranya, Abdullah, yang berada persis di samping kamarnya.

Di kamar itu pula, ia meminta dibuatkan jendela yang selalu terbuka agar ia bisa terus memandangi Makam Sang Kekasih, Rasulullah SAW. Jendela itu harus selalu terbuka selamanya. Setelah Hafshah wafat, jendela itu tetap terbuka hingga kini, melalui kurun waktu 14 abad lamanya. Jendela itu menghadap langsung ke Makam Nabi SAW.
Jendela ini memiliki beberapa nama. As-Suyuthi menyebutnya ‘Jendela Umar bin al-Khaththab’, sedang Ibnu Katsir menamainya ‘Jendela Keluarga Umar’. Setiap penguasa yang memimpin Masjid Nabawi selalu memperhatikan keberadaan jendela yang terbuka ini. Mereka pun mempertahankan janji Umar terhadap putrinya Hafshah untuk membiarkan jendela ini selalu terbuka dari zaman ke zaman.

form-multibahasa-tentang-landmark-kota-madinah-1708668144">Arab Saudi Luncurkan Platform Multibahasa tentang Landmark Kota Madinah
(wid)
Andryanto Wisnuwidodo

No comments: