Pembebasan Irak: Kisah Surat Khalid yang Menyebut Pasukan Muslim Cinta Mati

Pembebasan Irak: Kisah Surat Khalid yang Menyebut Pasukan Muslim Cinta Mati
Pasukan Muslimin mengadakan serangan balasan, dan pihak Persia melarikan diri. Ilustrasi: Ist
Kala pembebasan Irak , anggota pasukan Khalid bin Walid tidaklah banyak. Sebagian mereka syahid dalam perang Yamamah , yakni perang melawan nabi palsu, Musailamah . Di sisi lain, pasukan Khalid juga banyak yang pulang menemui keluarganya setelah dari Yamamah.

Khalid tidak akan memanggil mereka kembali karena Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq memang sudah mengizinkan mereka pulang. Jangan menugaskan orang yang terpaksa dan jangan pula ada orang yang pernah murtad dalam ekspedisi itu, sebelum Khalifah memberikan pendapatnya.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan ketika Khalid meminta bala bantuan kepada Abu Bakar, maka yang diperbantukan kepadanya Qa'qa' bin Amr at-Tamimi.

Dalam hal ini ada orang yang merasa heran, sehingga mereka berkata: "Memakai orang yang pasukannya tak mampu menangkap satu orang pun."

Abu Bakar menjawab: "Selama masih ada orang semacam dia pasukannya tak akan dapat dikalahkan."

Demikian juga jawabannya ketika Iyad diperbantukan kepada Abd bin Auf al-Himyari. Ketika mengirim Qa'qa' itu ia menulis kepada Khalid "Mintalah bantuan orang-orang yang pernah memerangi kaum murtad dan orang yang teguh keislamannya sesudah Rasulullah SAW wafat"

18.000 Orang Pasukan

Tak lama setelah kembali Khalid menyusun pasukannya, terdiri atas 8000 orang dari suku Rabi'ah dan Mudar, di samping 2000 yang sudah ada. Dengan jumlah 10.000 itu kemudian ia berangkat.

Sebelum itu pun sudah ada 8000 orang dipimpin oleh komandan-komandan pasukan Muslimin, dengan Mutsanna sebagai panglimanya.

Kalau sudah memasuki Irak perintah Abu Bakar kepada Khalid, supaya dimulai dari Ubullah di Teluk Persia. Ubullah adalah sebuah pelabuhan yang menjadi lalu lintas perdagangan ke India dan Sind, dan dari sana dikirim ke Irak.

Para ahli menyebutkan bahwa ekspedisi pertama ke Irak ialah ekspedisi Hafir. Letak Hafir ini di perbatasan Sahara, tak jauh dari pelabuhan Kazimah.

Kala itu yang memerintah seluruh daerah adalah Ormizd mewakili Persia, dan di kalangan bangsawannya ia termasuk orang yang sudah mencapai kedudukan tertinggi. Bagi orang-orang Persia ketika itu topi dinilai menurut keturunan dan kesukuan.

Orang yang sudah mencapai kedudukan tertinggi harga topinya seratus ribu, dan harga topi Ormizd sudah setinggi itu. Dalam berhubungan dengan orang-orang Arab Ormizd dikenal sebagai penguasa daerah yang paling jahat.

Begitu bencinya orang kepadanya sampai namanya dijadikan peribahasa yang melambangkan kejahatan: "Lebih jahat dari Ormizd" dan "Lebih kafir dari Ormizd."

Pangkal kebenciannya kepada Arab karena dahulu - saudara-saudara sepupunya di Semenanjung - sering melakukan penjarahan dan menyerang negeri-negeri yang berada di wilayahnya. Ia memerangi mereka di darat. Sedang di laut yang diperanginya orang-orang India, sebab kapal-kapal mereka datang ke pelabuhan itu dan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyerupai perompakan.

Dengan melakukan perang di darat dan laut ini ia menganggap dirinya pelindung negeri itu dan sebagai kunci Persia.

Tiga Satuan

Khalid berangkat dari Yamamah menuju Irak dengan membawa 10.000 orang tentara. Sesampai di perbatasan ia melihat Mutsanna dan pasukannya sedang menunggu. Di situlah Khalid membagi pasukannya menjadi tiga satuan, masing-masing diarahkan ke jalan yang semuanya nanti akan bertemu di Hafir.

Satuan pertama dipimpin oleh Mutsanna bin Harisah asy-Syaibani, yang sudah diberangkatkan dua hari sebelum Khalid; regu kedua di bawah pimpinan Adi bin Hatim at-Ta'i yang berangkat sehari sebelumnya, dan Khalid sendiri di barisan terakhir.

Sebelum itu Khalid memang sudah mengirim surat kepada Ormizd mengatakan:

"Kemudian daripada itu; terimalah ajaran Islam, Anda akan selamat. Atau tempatkanlah dirimu dan golonganmu sebagai zimmi dan membayar ketentuan jizyah. Kalau tidak, janganlah salahkan orang lain, tetapi yang salah Anda sendiri. Aku datang kepadamu dengan pasukan yang cinta mati, seperti juga kalian yang cinta hidup."

Ormizd menerima surat itu sementara berita-berita tentang kaum Muslimin dan pasukannya sudah tersiar luas. Ia menulis surat kepada Raja Ardasyir (Ardashir) menyampaikan berita itu.

Sementara itu ia sudah pula mengumpulkan pasukannya dan terus berangkat ke Kawazim untuk menghadapi Khalid di sana. Setelah mengetahui bahwa Khalid memerintahkan pasukannya berangkat ke Hafir, cepat-cepat ia mengerahkan pasukannya dan bermarkas di sebuah mata air di tempat itu.

Khalid sudah datang ke sana dan memerintahkan agar menyerukan pasukannya turun di sana dan sekalian menurunkan barang-barangnya. Beberapa orang anggota pasukannya mengatakan bahwa mereka tak punya persediaan air.

"Turunlah dan letakkanlah barang-barang kalian di sini. Kemudian berjuanglah untuk menguasai mata air itu. Air akan menentukan ketahanan dan kehormatan kedua pasukan ini."

Ekspedisi Kazimah dan kemenangan Khalid melawan Persia
Ormizd berdiri di tengah-tengah pasukannya, didampingi di kanan kirinya oleh dua orang pangeran dari keluarga kerajaan di Persia, Kobad (Kavadh) dan Anusyagan. Ormizd berteriak: "Mana Khalid?!"

Ia menginginkan Khalid maju bertanding satu lawan satu. Karena dia sudah tahu tentang kepahlawanan Khalid di negeri Arab dan apa yang sudah dilakukannya, maka lebih yakin dia bahwa kalau dapat membunuh Khalid, berarti Persia memperoleh separuh kemenangan kalau tidak akan dikatakan itulah seluruh kemenangannya. Tetapi apa pula yang telah menggodanya ia ingin membunuh Khalid padahal Khalid seorang pahlawan yang tak terkalahkan?!

Soalnya mudah saja. Dengan pengkhianatan tujuannya akan tercapai. Untuk itu ia perintahkan pasukan berkudanya, kalau mereka melihat Khalid maju, seranglah dia serentak dan bunuhlah.

Khalid mendengar ajakan Ormizd itu. Ia turun dari kudanya dan melangkah menuju kepadanya, maka bertemulah keduanya dan terjadilah dua kali duel. Ketika itulah pasukan berkuda Persia sudah siap menyerang hendak membunuh Khalid dan menyelamatkan Ormizd. Tetapi ketika itu juga Qa'qa' bin Amr menyerang mereka tanpa memberi kesempatan lagi. Sementara itu Khalid sudah berhasil membantai Ormizd.

Ketika itulah pasukan Muslimin mengadakan serangan balasan, dan pihak Persia melarikan diri. Oleh pasukan Muslimin mereka dikejar terus sampai malam hari.

Pihak Muslimin sudah sampai di Jembatan Besar Sungai Furat, letak kota Basrah yang sekarang, sementara Kobad dan Anusyagan terus lari tunggang langgang bersama sisa-sisa pasukannya.

Kemenangan berakhir di pihak Muslimin. Khalid memerintahkan Ma'qil bin Muqarrin al-Mazani agar pergi ke Ubullah untuk mengumpulankan harta dan tawanan-tawanan peran. Ma'qil segera melaksanakan tugas itu.

Sedang Mutsanna mendapat perintah agar memburu pasukan Persia yang sudah kalah itu. Mutsanna bergegas mengejarnya, dan seolah ia tak ingin kehilangan jejaknya sebelum mencapai Mada'in.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: