Kisah Al-Mutsanna Pimpin Pasukan Muslim Bebaskan Surga Dunia Bernama Irak

 Kisah Al-Mutsanna Pimpin Pasukan Muslim Bebaskan Surga Dunia Bernama Irak

Kalau Muslimin berhasil membebaskan Irak berarti berita baik untuk langkah selanjutnya yang lebih besar. Ilustrasi: Ist
Al-Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani adalah pemimpin pasukan dalam awal masa penaklukan Kekaisaran Sasaniyah di era Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq . Beliau wafat sebelum kemenangan pasukan Muslim dalam Pertempuran Qadisiyyah.

Ia menjadi tokoh yang dihormati dalam sejarah Irak modern karena keterlibatan militernya tersebut, dan namanya pernah dijadikan nama gerakan politik Pan Arabisme Nadi al-Muthanna di Irak. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai nama Kegubernuran Al Muthanna yang terletak di selatan Irak.

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menyebut kalau Muslimin berhasil membebaskan Irak berarti berita baik untuk langkah selanjutnya yang lebih besar.

Delta di kedua sungai ini - dengan segala kesuburan dan hasil buminya - bukanlah daerah penghasil bumi tersubur dan terbaik di Irak . Bahkan Sungai Tigris dan Sungai Furat sudah mengalir sejajar hampir tiga ratus mil sebelum bermuara.

Jadi bukan hanya daerah-daerah subur sejajar itu saja yang membuat taman surga yang tak kalah dengan taman-taman di Syam yang telah mempesonakan penduduk Hijaz itu, tetapi juga di sana terdapat peninggalan-peninggalan sejarah yang telah membuat kagum penduduk Semenanjung itu sendiri, bahkan penduduk dunia seluruhnya.

Misalnya kota Ur yang menurut penemuan-penemuan belakangan ini yang oleh sebagian orang dibandingkan dengan peninggalan-peninggalan Firaun, terdapat di kawasan ini.

Menurut Haekal, kalau kita pergi ke utara tak jauh dari kedua sungai yang sejajar itu, kita akan bertemu dengan peninggalan-peninggalan purbakala Babilonia.

Di pantai Furat itu kita akan melihat pula menara Babel berdiri tegak seolah sedang berkisah tentang kebesaran Asiria dan sejarahnya yang gemilang.

"Dan kalau sekarang kita bicara tentang menara ini, tak habis-habisnya akan timbul rasa kagum dalam hati kita. Betapa pula hal itu sudah berlalu empat ribu tahun silam, dan betapa besar pengaruhnya dalam hati orang Arab yang pernah mendengar kisahnya!" tulis Haekal.

Selanjutnya, Haekal mengatakan, kalau kita meneruskan perjalanan menyusuri Sungai Furat, kita akan berhadapan dengan kota Mada'in, ibu kota Persia, yang merupakan pusat segala kemewahan dan kenikmatan hidup di seluruh dunia. Betapa besarnya kemewahan Persia ketika itu, tak dapat ditandingi oleh bangsa lain. Tetapi saat itu pula Persia mulai tergelincir menuju kejatuhan dan kehancurannya.

Barangkali nama-nama yang kita sebutkan itu dapat melukiskan kebesaran sejarah kawasan ini, yang terletak di kedua sisi Delta Furat dan Tigris. Semua ini akan menimbulkan kenangan indah tentang taman-taman, tentang tanaman anggur dan kehijauan kebun-kebun di sekitar kota itu, membentang luas tak berujung dengan warna warni yang sungguh cemerlang, dengan semerbak bunga-bunga dipancarkan ke udara yang kita hirup.

Baru sebagian saja kesuburan daerah ini yang tampak, orang sudah menamakannya "Surga Dunia;" karena hasil buminya yang begitu melimpah, karena keindahannya yang tak kalah indah dengan Syam, bahkan mungkin melebihinya.

Abu Bakar melihat apa yang dikatakan oleh Musanna asy-Syaibani itu memang benar juga. Ia berpendapat sudah menjadi kewajiban Muslimin mengamankan penduduk kawasan itu. Kalau kemudian mereka bersedia menerima dakwah Islam dan mengusir kekuasaan Persia di sana, maka itulah yang lebih baik. Tetapi kalau tidak pasukan Muslimin akan memerangi kekuasaan Persia, supaya kebebasan menyatakan pendapat itu terbuka luas. Suara kebenaran pasti menang, dengan memberikan alasan dan ajakan yang baik.

Khalid bin Walid

Abu Bakar bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya. Kepada mereka disampaikannya keterangan yang diperolehnya dari Musanna. "Berilah aku kekuasaan dari pihak kaumku. Aku akan memerangi siapa saja orang Persia yang menganggap aku lemah. Dari pihakku saja sudah cukup untuk menggantikan kalian," kata Abu Bakar.

Tatkala mereka saling bertukar pikiran itu, ada yang berpendapat bahwa dalam hal ini diperlukan sekali pendapat Khalid bin al-Walid yang sekaligus akan menunjukkan apa yang harus dilakukan jika pihak Persia mengadakan perlawanan kepada pasukan Muslimin.

Sementara itu Khalid masih tinggal di Yamamah dengan kedua istrinya, Umm Tamim dan putri Mujja'ah, sedang beristirahat setelah ekspedisi 'Aqriba'. Ia hidup tenteram dengan kedua istrinya itu.

Abu Bakar memanggil Khalid dengan tergesa-gesa, dan Khalid pun segera pula datang. Khalid langsung setuju setelah mengetahui apa yang dilaporkan oleh Musanna, dengan memperlihatkan akibat yang mungkin terjadi karena perlawanan pihak Persia kepada pasukan Musanna.

Kalau Persia mendapat kemenangan, kemenangan itu akan mendorong pikirannya untuk menanamkan kembali pengaruhnya di Bahrain dan daerah sekitarnya.

Akan tetapi jika persiapan yang diadakan oleh Khalifah, dan apa yang sudah dilakukan Musanna sebelum itu sebagai garda depan dengan menerjunkan pasukan Muslimin yang sudah juga menyiapkan diri dengan jiwa raganya, sudah tentu Irak akan membuka pintu, dan orang-orang yang tinggal-di sana sebagai petani akan menjadi faktor utama yang akan membela orang-orang sebangsanya.

Selesai mengadakan pembicaraan, pemimpin-pemimpin itu menyetujui Abu Bakar sebagai komandan Musanna. Ketika itulah ia mengeluarkan perintah agar perjanjian dan ajakan yang sudah dimulai Musanna kepada orang-orang Arab itu diteruskan.

Perintah itu merupakan langkah pertama untuk membebaskan Irak. Tetapi langkah yang menentukan ialah ketika komando tertinggi pasukan ke Irak itu dipegang oleh Khalid bin Walid.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: