Cara Membedakan antara Nabi-Nabi yang Benar dan Palsu?

 Prof Wilson: Bagaimana Cara Membedakan antara Nabi-Nabi yang Benar dan Palsu?

Imam Mohammad Jawad Chirri. Foto/Ilustrasi: Historic Images

Prof Wilson: Sejarah membuktikan banyak orang yang mempunyai hak kenabian.

Individu-individu ini muncul di berbagai masa, dan beberapa dari mereka masih hidup. Kita mengetahui bahwa beberapa dari mereka adalah Nabi-nabi yang benar, dan beberapa dari mereka adalah tidak benar.

Bagaimana kita dapat membedakan antara Nabi-nabi yang benar dan yang tidak benar?

Imam Chirri: Seorang Nabi adalah pesuruh Tuhan. Dia adalah utusan Tuhan untuk manusia. Seorang utusan mesti memiliki surat kepercayaan, beberapa tanda yang menunjukkan kebenarannya.

Tak seorangpun akan diterima sebagai seorang utusan karena keinginannya sendiri. Oleh karena itu, kita dapati bahwa Perorangan-perorangan itu yang dipercaya menjadi Nabi-nabi dilengkapi dengan beberapa kekuatan-kekuatan yang luar biasa yang tidak terdapat pada orang-orang lain.

Musa diberi kelebihan oleh Tuhan untuk mengubah tongkatnya menjadi seekor ular, merubah air menjadi darah, dan membelah laut dengan pukulan tongkatnya.

Yesus diberi kelebihan untuk menyebutkan orang sakit tanpa obat, membuat orang buta dapat melihat, menghidupkan orang mati, dan, menurut kitab Suci Al-Qur'an dapat berbicara sewaktu dia dalam ayunan (buaian).

Muhammad dilengkapi ucapan yang mulia (sangat baik), Al-Qur'an, dalam bahasa Arab.

Prof Wilson: Haruskah seorang Nabi itu manusia atau mungkinkah Tuhan mengirim pesuruh yang bukan manusia?

Imam Chirri: Seorang Nabi adalah contoh untuk manusia. Dia akan berbagi dengan mereka sifat-sifat yang sama, kemampuan yang sama dan keterbatasan yang sama. Harus mampu memberi contoh yang baik. Harus mempunyai kesanggupan menarik orang-orang untuk mengikuti ajarannya. Bila Nabi mempunyai sifatsifat yang "biasa," orang-orang tidak akan mengikuti contohnya.

Kesempurnaan yang ditunjukkan oleh seorang Nabi akan memungkinkan diikuti oleh pengikut-pengikutnya.

Bila seseorang menujukkan pada saya tingkat kebajikan yang tinggi, saya akan terpikat untuk mencoba mencapai tingkat itu. Dia dan saya adalah manusia apa yang mungkin untuk dia adalah mungkin untuk saya. Tetapi bila malaikat menunjukkan pada saya tlngkat moral yang tinggi, saya tidak akan mencoba mengikuti contohnya. Apa yang mungkin untuk dia barangkali tidak mungkin untuk saya, karena dia tidak berasal dari sifat dasar yang sama.

Ada alasan lain untuk mempercayai bahwa manusia akan menerima Nabi-nabi dari jenis manusia. Kita telah tahu bahwa seorang Nabi diharapkan mewujudkan kebenaran dengan jalan menunjukkan pada orang-orang suatu perbuatan (prestasi) yang luar biasa. Dengan demikian, orang-orang akan tahu bahwa dia diberi kuasa oleh Tuhan, sebab apa yang ia lakukan di luar kemampuan orang biasa.

Ini tidak akan berakibat apa-apa bila Nabi bukan manusia, misalnya malaikat.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: