Konspirasi Yahudi: Perjanjian Versailles dan Kisah Tragis Roza Luxemburg

 Konspirasi Yahudi: Perjanjian Versailles dan Kisah Tragis Roza Luxemburg

Roza Luxemburg. Foto/Ilustrasi: Herodoto
Traktat Versailles (1919) adalah suatu perjanjian damai yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I antara Sekutu dan Kekaisaran Jerman . William G. Carr mengatakan dalam sejarah sering terjadi kesalahan besar, adanya perjanjian dan pertemuan yang sering menimbulkan akibat buruk yang tidak diharapkan oleh berbagai negara.

"Sejarah belum pernah menyaksikan akibat yang lebih buruk dari pada yang ditimbulkan oleh Perang Dunia I, yaitu perjanjian Versailles, yang buntutnya masih dirasakan oleh umat manusia sampai kini," tulis William G. Carr dalam bukunya berjudul "Yahudi Menggenggam Dunia" (Pustaka Kautsar, 1993).

Perjanjian Versailles yang menandai berakhirnya Perang Dunia I sebenarnya merupakan bibit timbulnya Perang Dunia II . Perjanjian ini telah mencoreng wajah dunia secara keseluruhan.

jadi wilayah jajahan, yang diistilahkan dengan kawasan-kawasan pengaruh. Perjanjian Versailles juga melahirkan penjajahan baru dengan istilah yang menyesatkan, seperti pemerintah perwakilan, perlindungan, pendudukan, pembinaan, kawasan pengaruh, dan seterusnya.

Timbullah berbagai pertikaian, pemberontakan, krisis macam-macam, yang diakibatkan oleh pengelompokan bangsa dan negara menjadi berbagai sekutu, yang pada akhirnya menumbuhkan bibit kekacauan di mana-mana, dan kecemburuan politik tak terhindarkan lagi. Sebagai akibat dari semua itu, situasi dunia makin buruk, setelah perjanjian Versailles dilaksanakan.

Opini dunia mulai menyadari keburukan isi perjanjian Versailles itu sedikit demi sedikit. Tokoh politisi dunia dibantu oleh para ahli strategi terus mengamati perkembangan yang terjadi. Akhirnya mereka meletakkan tanda tanya besar di seputar perjanjian itu.

Nah untuk itu, William G. Carr mencoba mengungkap tabir yang menutupi hakikat yang melatarbelakangi perjanjian itu.

Penindasan

Menurutnya, para analis netral memberi komentar tentang perjanjian Versailles, bahwa para wakil dunia berbudaya sebenarnya tidak menandatangani isi perjanjian yang berisi penindasan, sebanyak penindasan yang diderita oleh bangsa Jerman, setelah perjanjian itu diberlakukan.

Kebenaran ini terlihat dari sikap bangsa Jerman terhadap perlakuan yang mereka terima akibat diberlakukannya perjanjian itu beberapa hari setelah ditandatangani. Akibatnya, bangsa Jerman naik darah dan dendam, yang kelak berkembang menjadi bahan dasar pemikiran paham nasionalisme Aryan Jerman.

Fenomena kebencian bangsa Jerman ini kelak melahirkan Hitler dan Nazisme, yang kemudian menyebabkan pecahnya Perang Dunia II. Kita perlu melihat kembali kerancuan bagaimana Perang Dunia I berakhir, agar kondisi yang mengelilingi penandatanganan perjanjian Versailles tanggal 11 November 1918 menjadi jelas.

Permintaan untuk mengadakan gencatan senjata oleh komandan tertinggi angkatan bersenjata Jerman bukan berarti menyerah kalah. Peristiwa ini menimbulkan perbedaan pendapat yang sangat besar. Pasukan Jerman masih tetap kuat dan masih maju menghadapi musuh.

Perempuan Yahudi

Permintaan komandan tertinggi Jerman itu semata-mata disebabkan oleh adanya bahaya yang mengancam dari dalam negeri Jerman sendiri, yaitu bahaya pemberontakan Komunis yang timbul di bawah pimpinan seorang perempuan Yahudi , Roza Luxemburg.

Ketika pimpinan pasukan Jerman sedang membicarakan masalah gencatan senjata dengan sekutu, ada peristiwa besar yang terjadi, yang perlu dicatat.

Gerakan pemberontakan Komunis di bawah pimpinan Roza Luxemburg berhasil menyusup ke dalam tubuh angkatan bersenjata Jerman, khususnya ke dalam jajaran angkatan laut, yang selama itu menjadi incaran mereka.

Pada awal tahun 1918 tiba-tiba tersiar desas-desus di kalangan angkatan laut Jerman, bahwa panglima tertinggi angkatan bersenjata akan mengadakan serbuan bunuh diri dengan kapal perangnya secara besar-besaran terhadap armada angkatan laut Amerika, Inggris dan Perancis.

Tujuannya ialah untuk melumpuhkan kapal-kapal sekutu, meskipun untuk itu Jerman akan kehilangan sebagian besar kapal perangnya. Setelah itu, Jerman akan mengadakan serangan udara di pantai-pantai Inggris yang tidak terlindung oleh armada sekutu.

Para penyebar kabar burung itu terus melakukan agitasi kasak-kusuk, dan mengadakan api pembangkangan dengan dalih, bahwa rencana serbuan gila seperti itu sama saja dengan bunuh diri secara konyol, dan akan mengakibatkan kehancuran fatal.

Desas-desus itu terutama difokuskan pada bayangan yang mengerikan yang akan terjadi, apabila saat itu pesawat sekutu menjatuhkan bom-bom kimia paling modern terhadap pasukan Jerman. Maka nasib pasukan Jerman sudah bisa dibayangkan.

Desas-desus itu mencapai puncaknya, ketika para agitator mengumumkan secara terbuka dari atas kapal Jerman, tentang satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari nasib yang bakal menimpa, apabila panglima angkatan bersenjata meneruskan rencana serbuan itu.

Pada tanggal 3 November angkatan laut Jerman benar-benar mengeluarkan pernyataan pembangkangan terhadap panglima tertinggi angkatan bersenjata.

Kemudian disusul oleh pembangkangan unit armada kapal selam pada tanggal 7 November, yang sedang berada dalam perjalanan menuju arah front Barat. Tiba-tiba tersiar desas-desus yang lain, bahwa mereka sedang berjalan pergi untuk melarikan diri dari misi serbuan bunuh diri yang didesas-desuskan itu.

Pada saat yang sama di Jerman terjadi kekacauan besar di berbagai pabrik amunisi dan senjata, yang menyebabkan macetnya produksi. Sejumlah orang keluar untuk menyebarluaskan tuntutan, agar Jerman menyerah kepada sekutu.

Perkembangan selanjutnya makin bertambah kacau dan keruh, sehingga Kaisar Jerman terpaksa turun tahta pada tanggal 9 November 1918. Kemudian segera berdiri sebuah pemerintahan Republik Sosialis. Langkah pertama yang dilakukan adalah menandatangani gencatan senjata, hanya beberapa hari berselang kemudian, yaitu pada tanggal 11 November 1918.

Akan tetapi, kerusuhan itu tidak juga kunjung reda. Bahkan kali ini banyak orang bertambah sengit menentang tokoh-tokoh Republik Sosialis.

Roza Luxemburg telah memainkan kartu pentingnya, ketika ia mengajukan persyaratan kepada pemerintahan Republik Sosialis, untuk melepas angkatan bersenjata dan menggantikan panglimanya, sebagai imbalan untuk meredakan kerusuhan.

Namun ketika Jerman tidak lagi mengandalkan pasukan regulernya yang mampu menumpas kerusuhan dan kekacauan, Roza Luxemburg beserta kelompoknya kembali memihak kaum republik sosialis dan bergabung ke dalamnya.

Kemudian mereka mengeluarkan pengumuman tentang revolusi di kota Berlin pada bulan Januari 1919, dan berhasil merebut kekuasaan bersama para pendukungnya, yang mayoritas adalah orang Yahudi.

Lenin dan Trotsky

Namun revolusi ini sempat menimbulkan dampak ke luar yang tidak disangka-sangka. Di Moskow terjadi perpecahan tajam antara dua tokoh revolusi Komunis Rusia, yaitu Lenin dan Trotsky.

Lenin menolak mentah-mentah membantu Roza Luxemburg, sedang Trotsky bersedia membantu dengan segala kekuatan yang dimiliki Uni Sovyet Rusia.

Penolakan Lenin itu menjadi faktor penentu bagi perkembangan selanjutnya. Roza dan kawan-kawan Yahudinya menjadi terisolir. Sementara kaum nasionalis Jerman bangkit untuk menyerang Roza dan para pendukungnya.

Mereka dikejar-kejar, dan terjadilah pembantaian besar-besaran atas orang Yahudi. Seorang kolonel muda dari angkatan bersenjata Jerman berhasil menangkap Roza beserta pembantu utamanya Kari Lickenht.

Kemudian mereka berdua ditembak mati. Kebencian terhadap unsur semitik terus memuncak, karena mereka merupakan biang kerok yang telah merugikan Jerman dalam perang, dan timbulnya kerusuhan besar setelah itu.

Rumah-rumah yang dihuni oleh orang Yahudi dibakar, dan ratusan ribu orang Yahudi menemui ajal mereka, akibat dendam mendalam bangsa Jerman terhadap mereka.

Sejak itu situasi di Jerman membuka pintu bagi fanatisme ras, dan menghidupkan kembali teori superioritas Aryanisme, atau dengan kata lain memunculkan Hitler dan Nazismenya.

Inilah akibat peran buruk yang dimainkan oleh pemilik modal Yahudi internasional bagi bangsa Jerman, mulai dari angkatan lautnya, pabrik senjatanya dan perjanjian Versailles yang sangat memberatkan Jerman.

Lenin sendiri pernah mengatakan, bahwa Roza Luxemburg adalah orang Yahudi yang bertanggung jawab atas gelombang antisemitik yang melanda Jerman.

Konspirasi sebenarnya menemukan kondisi yang sesuai untuk menyulut api Perang Dunia II, setelah mereka lebih dulu merancang dan menciptakan situasi itu. Ini sesuai dengan pernyataan di atas, bahwa yang bertanggung jawab atas gelombang anti semitik di Eropa, dan perkembangan situasi yang terus memuncak menuju pertikaian senjata secara global adalah hasil ulah tangan kotor persekongkolan para pemilik modal Yahudi internasional sendiri.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: