Kisah Konspirasi Yahudi: Strategi Licik Nathan Rothschild dalam Mengakuisisi Bisnis Inggris

 Kisah Konspirasi Yahudi: Strategi Licik Nathan Rothschild dalam Mengakuisisi Bisnis Inggris

Nathan Rothschild. Foto: Wikipedia
Napoleon Bonaparte sukses menjadi Kaisar Prancis dari tahun 1804 sampai tahun 1814 atas sokongan Konspirasi Yahudi Internasional. Begitu Napoleon ingin lepas dari kendali Konspirasi, ia langsung dijatuhkan. Konspirasi membiayai Rusia untuk menghancurkan Kaisar Napoleon.

William G. Carr dalam bukunya berjudul "Yahudi Menggenggam Dunia" (Pustaka Kautsar, 1993) menyebutkan sejarah telah mencatat, setelah kekalahan Napoleon Bonarparte disusul dengan peristiwa penurunan Napoleon dari tahta, ia dibuang ke pulau Elba.

Ketika Napoleon melarikan diri sebagai usaha untuk kembali, segera ditangkap kembali oleh jaringan yang telah dipasang oleh Konspirasi Yahudi Internasional. "Pertempuran Waterloo merupakan perang terakhir bagi Napoleon," tulis William G. Carr.
Kekalahan pasukan Prancis, di bawah pimpinan Napoleon melawan pasukan Inggris-Belanda-Jerman di bawah Jenderal Wellington dan sekutu Prussia-nya di bawah Feldmarschall Blücher, mengakhiri kekuasaan seratus hari Napoleon dan diikuti dengan akhir dari Kekaisaran Prancis yang Pertama pada 22 Juni 1815.

Adapun Konglomerat Yahudi, Nathan Rothschild, nasibnya justru sebaliknya. la telah berhasil menguasai keuangan di seluruh Eropa , setelah berakhirnya masa kejayaan Napoleon.

Rothschild pada waktu itu telah membangun istana yang letaknya menghadap langsung dengan istana raja Louis XVIII, pewaris tahta kerajaan Prancis.

Dari lokasi di seputar istana raja, Nathan bisa memantau gerak-gerik yang ada di sana dari jendela istananya sendiri itu. Para mata-mata Konspirasi dalam istana raja Louis lebih mudah mengadakan hubungan dengan Nathan, khususnya mengenai perkembangan perang Waterloo yang hampir berakhir.

Pada waktu yang sama, Nathan mengadakan jaringan lain untuk menguak informasi tentang perang tersebut, untuk kemudian dikirim ke Inggris.

Pada saat datangnya berita mengenai keunggulan pasukan Wellington (panglima pasukan Inggris) atas Napoleon, dan dipastikan Wellington akan tampil sebagai pemenang perang, Nathan mengirimkan berita kebalikannya ke Inggris lewat utusannya.

Dikatakan, bahwa Napoleon lah yang menang atas Wellington. Tak ayal lagi, berita itu membuat rakyat Inggris cemas, dan harga bursa uang anjlok seketika. Kemudian Nathan berangkat secepatnya ke Inggris dengan kapal khusus. Begitu Nathan menginjakkan kakinya ke London, segera saja ia memerintahkan anak buahnya untuk memborong seluruh penjualan modal, saham, uang dan apa saja yang bisa dibeli.

Peristiwa ini sangat mengejutkan semua pihak, setelah pada hari berikutnya tersiar berita yang sebenarnya, yaitu kemenangan Wellington atas Napoleon.

Setelah pasar modal kembali normal, para pemilik modal Yahudi, khususnya Nathan telah memboyong keuntungan yang sangat besar. Tidak seorang pun membicarakan bagaimana Rothschild membungkam kemarahan pemerintah Inggris dan rakyatnya, akibat kerugian jutaan poundsterling dalam pasar modal London itu dalam waktu hanya satu hari.

Dan jelas pula tercatat dalam sejarah, bahwa Rothschild setelah itu mengeluarkan bantuan kepada Inggris uang sebesar £18juta, dan kepada Rusia £5 juta, karena negeri ini telah berjasa membantu Konspirasi menghancurkan Napoleon. Ketika Nathan meninggal dunia tahun 1836, Bank Inggris benar-benar telah berada di tangannya. Dan utang nasional Inggris kala itu telah mencapai £885 juta, akibat penjagalan ekonomi besar-besaran dalam pasar modal.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: