Kisah Kekalahan Ali bin Abi Thalib dari Utsman bin Affan dalam Pemilihan Khalifah

 Kisah Kekalahan Ali bin Abi Thalib dari Utsman bin Affan dalam Pemilihan Khalifah

Kalangan Quraisy lebih menyukai kenabian dan kekhalifahan itu jangan hanya di satu tangan Banu Hasyim. Ilustrasi: Ist/getty images
Abdur-Rahman mengangkat mukanya ke langit-langit Masjid dan sambil memegang tangan Utsman ia berkata tiga kali: "Dengarkanlah dan saksikanlah!" dilanjutkan dengan katanya: "Saya sudah melepaskan apa yang dipikulkan di atas bahu saya dan saya letakkan di bahu Utsman!" Setelah itu ia membaiat Usman, orang-orang di dalam Masjid pun beramai-ramai membaiatnya.

"Bagaimana sikap Ali dengan terpilih dan dibaiatnya Usman bin Affan?" tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987).

Inilah masalahnya, kata Haekal, sumber-sumber itu masih saling berbeda. Ibn Sa'ad dengan sanadnya menyebutkan, bahwa orang pertama yang membaiat Usman adalah Abdur-Rahman bin Auf, kemudian Ali bin Abi Thalib.

Dengan sanad lain ia menuturkan, bahwa Ali adalah orang yang pertama membaiat Utsman, kemudian berturut-turut yang lain juga membaiatnya.

Ibn Kasir menuturkan bahwa Abdur-Rahman bin Auf di mimbar duduk di tempat duduk Nabi, dan Utsman sesudah dibaiat didudukkan di tingkat kedua. "Dan orang datang ramai-ramai membaiatnya, dan yang pertama kali membaiat Ali bin Abi Thalib, ada yang mengatakan yang terakhir."

Akan tetapi Tabari membawa dua sumber, salah satunya hampir sama dengan sumber-sumber tersebut dan yang kedua sangat berbeda, dan keduanya menunjukkan bahwa pemilihan Utsman ini meninggalkan pengaruh yang dalam sekali dalam hati Ali.

Sumber pertama berpendapat bahwa sesudah orang berdatangan membaiat Utsman - sesudah dibaiat oleh Abdur-Rahman - Ali masih maju-mundur. Maka kata Abdur-Rahman: "Barang siapa melanggar janji, sebenarnya ia telah melanggar janjinya sendiri, dan barang siapa menepati janji yang dijanjikannya kepada Allah, maka Ia akan memberinya pahala yang besar." ( Qur'an, 48 : 10).

Kemudian Ali kembali dan setelah menyeruak di tengah orang banyak ia membaiat seraya berkata: "Suatu tipu muslihat yang luar biasa."

Mengenai sumber kedua mengatakan bahwa setelah Abdur-Rahman membaiat Utsman, Ali berkata kepadanya: "Anda merangkak untuk selamanya. Ini bukan yang pertama kali Anda memperlihatkan kekuatan Anda kepada kami. Sabarlah itulah yang terbaik, dan memohonkan pertolongan hanya kepada Allah atas segala yang kalian lukiskan! Sungguh, Anda mengangkat Utsman itu hanya supaya kekuasaan kembali kepada Anda! Dan setiap hari Allah memperlihatkan kekuasaan baru."

Dalam hal ini Abdur-Rahman berkata: "Ali, janganlah Anda menjerumuskan diri! Sudah saya pertimbangkan dan sudah saya musyawarahkan dengan khalayak ramai, tetapi ternyata mereka tidak membedakan Utsman."

Ali keluar sambil berkata: "Akan tiba waktunya."

Ibn Kasir menafikan sumber kedua Tabari ini dengan mengatakan: "Orang-orang yang sering disebutkan oleh para sejarawan seperti Ibn Jarir (Tabari) dan yang lain tidak dikenal. Bahwa Ali berkata kepada Abdur-Rahman: "Anda telah menipu saya, dan Anda mengangkatnya hanya karena dia ipar Anda dan agar dapat berunding dengan Anda setiap hari."

Abdur-Rahman berkata kepadanya: "Barang siapa melanggar janji, sebenarnya ia telah melanggar janjinya sendiri...." hingga akhir ayat.

Menurut Ibnu Katsir, berita-berita lain yang bertentangan dengan yang terdapat dalam kitab-kitab yang sahih, tertolak kembali kepada yang mengatakannya dan yang melakukannya. Wallahualam.

Haekal mengatakan semua itu membuktikan bahwa kalangan Quraisy lebih menyukai kenabian dan kekhalifahan itu jangan hanya di satu tangan Banu Hasyim.

Kata-kata ini dihubungkan kepada Ali setelah pelantikan Utsman: "Orang melihat kepada Quraisy dan Quraisy melihat kepada keluarganya dengan mengatakan: 'Kalau Banu Hasyim sudah menguasai kalian, kalian tidak akan pernah lepas dari mereka, juga Quraisy yang lain tidak dapat saling bergantian di antara kalian."

Kata-kata ini benar dihubungkan kepada Ali atau tidak, sudah sesuai dengan kejadian waktu itu. Ali orang yang paling tahu dan paling jujur berpegang pada kebenaran dan keadilan. Tetapi dalam hal ia tak jadi ditampilkan memperlihatkan ambisi Quraisy yang ingin memegang pimpinan kaum Muslimin secara bergantian di antara mereka, tidak hanya diwarisi oleh ahlulbait seperti raja-raja yang mewarisi takhta nenek moyang mereka, dan barangkali pembaiatan itu jatuh kepada Ali kalau tidak karena perasaan itu yang memang sudah berurat berakar dalam kalangan Quraisy.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: