Kisah Hikmah : Bahaya Khawarij dan Fitnah Wanita

 Kisah Hikmah : Bahaya Khawarij dan Fitnah Wanita

Kisah Imran bin Hitthan adalah kisah seorang alim yang menjadi khawarij karena terpengaruh cinta istrinnya, hal ini menunjukan bahwa bahayanya fitnah dari seorang wanita. Foto ilustrasi/ist
Kisah hikmah ini mengambil pelajaran dari cerita hidup Imran bin Hitthan bin Zhbyan. Siapakah Imran ini? Ia adalah seorang ulama yang banyak meriwayatkan hadis dari para Sahabat Nabi. Artinya, ia salah seorang dari Tabi’in , generasi yang bertemu dengan Sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Di antaranya ia meriwayatkan hadis dari Abu Musa al-Asy’ari, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Sayyidah ‘Aisyah, dan masih banyak lagi.

Dahulunya, Imran bin Hitthan adalah pembesar ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah di kota Bashrah. Ia sangat masyhur dengan julukan Abu Syihab. Selain itu, Imran bin Hitthan dipandang sebagai seorang penyair yang agung . Keindahan puisi-puisinya kerap sekali disejajarkan dengan keindahan puisi-puisi karya penyair yang sudah terkenal terlebih dahulu, semisal Farozdak dan Jarir.

Imran bin Hitthan memiliki banyak murid yang nantinya akan menjadi rantai sanad hadis darinya. Di antara murid-muridnya adalah Yahya bin Abi Katsir, Qatadah, Maharib bin Ditsar, dan masih banyak lagi. Sayangnya, separoh hayatnya ia terjerat oleh fitnah wanita. Ya, oleh cinta. Seperti apa kisahnya?

Dirangkum dari beberapa sumber seperti Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan Mizan al-‘Itidal karya Syamsuddin adz-Dzahabi, dikisahkan suatu hari, Imran bin Hitthan yang usianya masih sangat muda mengenal seorang gadis dari keluarga besarnya. Ia ingin menikahi putri pamannya bernama Hamnah.

Saat itu, ia berkeinginan menyelamatkan Hamnah dari pemikiran menyimpang. Pasalnya, Hamnah merupakan pengikut pemahaman Khawarij . Aliran Khawarij kerap kali mencaci-maki para al-Khulafa ar-Rasyidin, yaitu Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Utsman bin Affan, dan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Pemahaman tersebut terkenal sangat bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang dan menumpahkan darah. Inilah pemahaman dibalik pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib. Rasulullah bahkan telah memperingatkan bahaya mereka para Khawarij yang penampakannya islami namun pemikirannya menyimpang jauh dari ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena memahami bahaya Khawarij yang disebut dalam hadis dan ajaran para shahabat, Imran pun merasa sangat khawatir. Ia sedih putri pamannya terjatuh dalam pemahaman tersebut. Ia lalu bertekad meluruskan Hamnah kembali pada ajaran Rasulullah sesuai pemahaman para sahabat nabi.

Imran kemudian mendatangi pamannya untuk melamar Hamnah. Ia yakin bisa meluruskan Hamnah jika si wanita menjadi istrinya. Berlangsunglah pernikahan antara Imran dan Hamnah yang parasnya sangat cantik jelita. Rumah tangga pun dibangun Imran dengan cita-cita tinggi mengajak Hamnah bertaubat dan membangun keluarga diatas sunnah Rasulullah dan para sahabatnya.

Namun cita-cita tinggallah angan saja. Impiannya meluruskan pemahaman Hamnah ternyata sirna sudah. Setelah menikah, Imran ternyata terbelenggu fitnah. Benarlah bahwa fitnah terbesar bagi pria adalah wanita. Bukannya mempengaruhi sang istri, Imran justru dipengaruhi oleh istrinya. Imran terjatuh pada pemahaman Khawarij. Luntur sudah segala ilmu yang ia pelajari dari sahabat nabi.

Imran bin Hiththan sang mata para ulama, seorang yang faqih dalam agama, siapa sangka dapat terjerumus pada fitnah wanita. Orang-orang terkejut ketika Imran tampil menjadi tokoh khawarij. Murid-muridnya tak percaya gurunya yang saleh dapat terfitnah. Para ulama sahabatnya pun sangat menyayangkan dan menyesali. Umat Islam kehilanggan seorang ulama faqih dari kalangan tabi’in.

Bahayanya Fitnah Wanita

Sefaqih dan sealim apapun seseorang, tetap saja hati manusia mudah tergelincir oleh fitnah. Kisah Imran bin Hiththan hanyalah satu dari sekian banyak kasus serupa. Betapa banyak muslimin yang terfitnah setelah menikah.

Seorang pria berkeinginan menikahi seorang perempuan agar perempuan tersebut menjadi saleha, atau berhijab, mengaji, bermajelis, dan sebagainya. Pria itu lalu menikahinya. Namun pada kenyataannya justru si pria yang futur iman dan jauh dari agama.

Bahkan yang lebih menyedihkan di masa kini, tak sedikit pemuda muslim yang menikahi perempuan non-muslim dengan harapan dapat menjadikan wanita itu muslimah. Namun pada kenyataannya, justru keimanan si pria yang kemudian luntur tak tersisa. Ia justru terbawa sang istri dan menjadi murtad. Naudzubillah. Jangankan pria biasa, seorang alim sekelas Imran sang ulama tabi’in pun dapat terfitnah wanita.
Wallahu A'lam
(wid)
Widaningsih

No comments: