Strategi Pejuang Palestina yang Bikin Zionis Israel Kebingungan

 Strategi Pejuang Palestina yang Bikin Zionis Israel Kebingungan

Meski didukung alutsista canggih dan modern, pasukan Zionis Israel tetap kewalahan dan bingung menghadapi perlawanan pejuang Palestina. Foto/SINDOnews
Pejuang Palestina sudah bertahun-tahun menghadapi invasi Israel yang didukung perlengkapan militer canggihnya. Faktanya, pasukan Zionis Israel tetap saja kewalahan menghadapi perlawanan Mujahidin Palestina itu.

Strategi pejuang Palestina benar-benar membuat Zionis kebingungan. Tetapi media dan militer Israel berupaya menyembunyikan hal tersebut dari publik. Salah satu bukti rapuhnya militer Israel yaitu, sistem pertahanan Iron Dome-nya yang tak mampu menghalau ribuan roket dari Hamas. Baru-baru ini, roket Katyusha Hizbullah berhasil menjebol Iron Dome Israel dan menghantam permukiman Kiryat Shmona.

Jika membandingkan kekuatan militer antara Israel dan pejuang Palestina tentu sangat tidak seimbang. Israel memiliki alutsista canggih seperti jet tempur F-35, rudal berskala besar, helikopter dan artileri, tank lapis baja, teknologi militer, ditambah dukungan militer dari sekutunya AS dan negara-negara Eropa. Sedangkan pejuang Palestina hanya mengandalkan roket buatan, granat berpeluncur roket, drone, mortir dan senjata peluncur.

Namun demikian, faktanya militer Israel tetap saja kebingungan menghadapi pejuang Palestina. Bahkan pasukan Israel tidak berani berhadapan langsung dengan pejuang Hamas dalam pertempuran darat. Militer Israel hanya berani menembakkan rudal dari jarak jauh untuk menyerang warga sipil dan memborbardir fasilitas publik.

Kejutan Bagi Israel
Beberapa hari lalu, para pejuang Palestina telah membuat sebuah kejutan bagi Israel. Mengutip informasi akun
@gen.saladin dalam postingannya di kanal IG disebutkan, Mayor Jenderal Fayez Al Duwairi menggambarkan apa yang terjadi di situs Erez (Gaza Timur laut). Dia mengatakan, "Tidak ada analisis yang mampu memahami jenis manajemen pertempuran yang dilakukan oleh pejuang Palestina."

Erez terletak di timur laut Jalur Gaza, dekat Kota Beit Hanoun. Penting untuk dicatat bahwa daerah di sekitarnya terkena ratusan roket dan serangan bertubi-tubi selama 22 hari yang menyebabkan musuh percaya diri untuk mendorong pasukan dan tentaranya ke sekitar lokasi dari Gaza dengan penuh kepastian. Logika mengatakan bahwa daerah itu telah hangus baik di atas maupun di bawah tanah.

Tapi, kemudian muncul pertanyaan, bagaimana dan dari mana para pejuang Palestina bisa mendatangi mereka? Melalui pantauan ketat dan bagi yang mengetahui geografi daerah tersebut, Mayor Fayez mengatakan, "Belum ada penjelasan rasional atas apa yang terjadi, karena Kota Beit Hanoun dan sekitarnya telah menjadi kawasan hantu setelah penduduknya mengungsi akibat bencana tersebut dan intensitas pengeboman. Namun, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Lembah Yarmuk, Saksi Pertempuran Kaum Muslim Melawan 200 Ribu Pasukan Romawi
Kita kembali ke sejarah masa lalu, lembah Yarmuk, sebuah lembah di dekat Palestina menjadi saksi sejarah pertempuran Yarmuk antara kaum Muslim melawan pasukan Romawi pada Tahun 636 M. Romawi kala itu membawa seperempat juta (200.000 tentara) lengkap dengan sumber dayanya. Sementara kaum muslimiin hanya 36.000 pejuang.

Pasukan Romawi punya sejarah pilu ketika berhadapan dengan kaum muslimin. Mereka masih ingat beberapa tahun sebelumnya saat Perang Mu'tah, 200 ribu tentara Romawi bisa diimbangi pasukan kecil berjumlah 3.000 pejuang muslim. Romawi adalah tentara profesional yang menguasi taktik tempur dan ilmu perang. Namun, mereka tidak mengerti bagaimana sebenarnya cara kaum muslimin bertempur?

Khalid bin Walid tahu tentang hal itu. Ia paham bahwa salah satu kelebihan kaum muslimin adalah strategi yang tidak dimengerti sepenuhnya oleh musuh. Romawi juga mendeskripsikan bahwa pasukan muslim itu seperti singa di siang hari dan rahib di malam hari. Bagaimana mungkin ada pasukan yang lebih mencintai kematian daripada kehidupan? Itulah ketakutan yang dirasakan oleh musuh-musuh Islam kala itu.

Khalid bin Walid juga memadukan strategi gerilya Arab dan taktik ala Romawi sehingga membuat musuh kelimpungan. Ya, semakin musuh tidak tahu cara berpikir kita, semakin besar pula potensi kemenangan. Pejuang Palestina benar-banr belajar dari sejarah masa lalu bagaimana pasukan muslim yang dikomandoi Khalid bin Walid membuat kejutan bagi musuhnya.

Referensi:
1. Ayyamun Laa Tunsa, Tamer Badr
2. Abqariyyatu Khalid, Abbas Al Aqqad
3. Adham Abu Salmiyyah, Jurnalis Palestinaa
4. Al-Jazeera.

(rhs)
Rusman Hidayat Siregar

No comments: