Konspirasi Yahudi: Kisah di Balik Pembunuhan Raja Charles I

 Konspirasi Yahudi: Kisah di Balik Pembunuhan Raja Charles I

Raja Inggris, Chales I. Foto/Ilustrasi: Historic UK
Seorang tokoh militer Inggris, Oliver Cromwell (1599 – 1658), diduga kuat terlibat dalam konspirasi Yahudi dalam kasus pembunuhan Raja Charles I pada bulan Januari 1649.

William G. Carr dalam bukunya berjudul "Yahudi Menggenggam Dunia" (Pustaka Kautsar, 1993) menyebut tujuan persekongkolan Yahudi ini bukan sekadar membunuh Raja Charles I, tapi lebih jauh ingin menguasai perekonomian Inggris, dan menyalakan api peperangan antara Inggris melawan negara lain-lain.

"Peperangan yang berkecamuk pasti memerlukan biaya yang besar," tulisnya.

Para penguasa Eropa diharapkan akan meminjam uang dari para pemilik modal Yahudi itu dengan bunga berlipat-ganda. Dan ketergantungan keuangan itu akan memberi mereka kesempatan untuk mendikte kebijakan pemerintah yang bersangkutan, di samping akan mendapat keuntungan uang berlipat ganda dari utang yang mereka pinjamkan.

Menurut William G. Carr, sebenarnya sudah bisa diperkirakan mengenai peristiwa yang bakal terjadi, setelah terbunuhnya Raja Charles tahun 1649 hingga berdirinya Bank Inggris tahun 1694, yang di antara periode itu utang nasional kerajaan Inggris telah naik sampai tingkat yang mencemaskan.

Untuk lebih jelasnya, kita lihat kronologi peristiwa sejak meninggalnya Charles sebagai berikut:

1649 : Cromwell menyerbu ke Irlandia dengan mengandalkan dukungan finansial dari para pemilik modal internasional, sehingga api pertikaian berkobar antara orang-orang Irlandia yang beragama Katolik, disebabkan oleh penderitaan mereka akibat serbuan Inggris yang membawa bendera Protestan.

1650 : Pemberontakan meletus terhadap Cromwell di bawah panglima Inggris Son Trous, tapi bisa dipatahkan, dan pemimpin pemberontak itu ditangkap.

1651 : Charles 11 putra raja Charles I memerangi Cromwell, tapi tidak berhasil,dan kemudian ia dibuang ke Perancis.

1652 : Inggris terlibat perang melawan Belanda.

1653 : Cromwell mengumumkan diri sebagai penguasa mutlak dengan gelar The Lord Defender of Great Britain.

1654 : Inggris terlibat perang di Eropa lagi.

1656 : Pergolakan koloni Inggris di Amerika, yang kemudian lahir Negara Amerika Serikat.

1657 : Cromwell meninggal dunia, disusul dengan penobatan putranya, Richard sebagai penguasa Inggris.

1659 : Richard jemu dalam persekongkolan dengan Yahudi yang berkepanjangan, kemudian ia mengundurkan diri dari pemerintah.

1660 : Jenderal Monk dari angkatan bersenjata Inggris menduduki London, kemudian mengangkat Charles II sebagai raja Inggris.

1661 : Skandal persekongkolan antara Cromwell dan para pemimpin Yahudi terungkap, dan menimbulkan reaksi menggemparkan di London. Makam Cromwell diserbu oleh massa, dan dibongkar sebagai pelampiasan kemarahan mereka.

1662 : Pertentangan agama antara sekte Kristen Protestan; dan penindasan sekte yang menolak untuk tunduk kepada gereja resmi Inggris, yaitu Gereja Anglikan.

1664 : Inggris terlibat perang lagi melawan Belanda.

1665 : Krisis ekonomi melanda Inggris, yang menimbulkan pengangguran dan kelaparan di kalangan rakyat. Juga di tahun itu terjadi musibah kebakaran besar yang menghanguskan sebagian besar kota London, disusul kemudian berjangkitnya wabah penyakit lepra.

1666 : Inggris terlibat perang melawan Belanda dan Perancis.

1667 : Gerakan sabotase rahasia yang digerakkan oleh orang-orang Yahudi muncul kembali di kalangan elit pemerintah, yang dikenal dalam sejarah Inggris dengan sebutan Kabala, sehingga muncul gelombang baru dalam penindasan agama dan politik di Inggris.

1674 : Program baru yang dilakukan oleh kelompok Konspirasi Internasional menggunakan dan menampilkan peran baru dan para kaki tangan baru pula, dengan menghentikan perang antara Belanda melawan Inggris.

Langkah pertama adalah mengorbitkan William Straad Holder untuk menduduki panglima tertinggi angkatan bersenjata Belanda, dan mendapat gelar Duke of Orange.

Setelah itu, mereka mengatur skenario untuk bisa mempertemukannya dengan Lady Mary, putri pewaris tahta kerajaan Inggris, yaitu Duke of York.

1677 : Pernikahan putri Mary dengan Duke of Orange, yang berarti mendekatkan singgasana Inggris dengan Duke of Orange tersebut. Dan tabir penghalang yang membatasinya hanyalah keberadaan Charles II dan Duke of York. Maka kalau kedua orang itu bisa dienyahkan berarti singgasana Inggris berada ditangannya.

1683 : Usaha Konspirasi untuk membunuh Raja Charles II dan Duke of York. Akan tetapi, persekongkolan tersebut gagal.

1685 : Charles II meninggal dunia. Duke of York menaiki tahta kerajaan Inggris dengan gelar Raja James II. Kemudian tersiar desas-desus luas yang diatur oleh Konspirasi Internasional untuk menentang raja baru itu pada saat penobatannya. Dan Duke of Mouth Moot terlibat pertempuran menentang raja baru, tapi tidak berhasil, dan ia sendiri ditawan, lalu dihukum mati pada tanggal 15 Juli 1685. Sebagai buntutnya, terjadilah penangkapan besar-besaran terhadap para penentang raja.

Sementara itu, kekuatan Konspirasi Yahudi terus mengipas angin kebencian rakyat terhadap raja, sebagai upaya untuk memberi jalan lapang bagi Duke of Orange menuju singgasana Inggris.

1688 : Kekuatan Konspirasi merintis satu langkah baru, setelah melihat perkembangan situasi yang terjadi di Inggris, yaitu mengatur penyerbuan yang dipimpin oleh pangeran William of Orange itu dari Belanda, dengan dukungan kapal-kapal laut pada tanggal 5 November menuju pantai Turbay, sehingga memaksa Raja James II turun tahta, dan meninggalkan Inggris menuju Perancis.

Rakyat telah termakan oleh isu yang diatur sebelumnya dari satu sisi, dan dari sisi lain disebabkan karena tindakan pembersihan besar-besaran yang dilakukanoleh raja James II terhadap para penentangnya, setelah gagalnya pemberontakan Duke of Mouth Moot. Disamping itu, kepribadian James sendirijuga telah ikut andil sebagai penyebab keruntuhannya.

1689 : William of Orange dan putri Mary sang permaisuri mengukuhkan diri sebagai Raja dan Ratu Inggris. Berhubung mantan Raja James II itu beragama Katolik, maka rakyat Inggris yang beragama Katolik berusaha mengembalikan James menjadi raja mereka. Dan kekuatan Konspirasi memunculkan William of Orange sebagai pahlawan Protestan. Dan benar, Raja James kembali ke Irlandia, sebuah negara bagian Inggris raya yang beragama Katolik pada bulan Maret tahun itu.

Pertempuran sengit pun tidak bisa terhindarkan antara mantan raja dengan pasukan William of Orange pada 12 Juli 1689. Dengan kata lain, pasukan Katolik perang melawan pasukan Protestan. Sampai sekarang, orang Inggris tetap memperingati peristiwa perang tersebut tanpa menyadari, bahwa sebenarnya yang terlibat dalam perang itu merupakan mainan yang dibuat olah para pemilik modal Yahudi Internasional yang bertujuan menguasai ekonomi dan politik Inggris sejak tahun 1640 hingga 1689.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: