Kisah Hasan Al-Banna Pendiri Ikhwanul Muslimin Menolak Sistem Sekuler

 Kurikulum Eksklusif: Kisah Hasan Al-Banna Pendiri Ikhwanul Muslimin Menolak Sistem Sekuler

Hasan Al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin. Foto: Ist
Hasan al-Banna adalah tokoh dan pendiri Ikhwanul Muslimin yang terlibat dalam perjuangan rakyat Palestina pada tahun 1948. Akibatnya, pihak Barat, melalui pemerintah Mesir , membubarkan organisasinya itu. Hasan al-Banna terbunuh pada 12 Februari 1949 di Kairo.

Syaikh Yusuf Qardhawi dalam buku berjudul "Syaikh Muhammad Al-Gazali yang Saya Kenal Setengah Abad Perjalanan Pemikiran dan Gerakan Islam" (Robbani Press, 1998) menyebut sosok al-Gazali begitu dihormati oleh dunia Islam. "Namun demikian beliau belum bisa menyamai Hasan al-Banna, guru yang telah mengajarkan kepadanya hakikat Islam yang hidup dan dinamis," tulisnya.

Al-Gazali sangat percaya kepada bakat intelektual, kejiwaan dan rohani al-Banna. Semua bakat ini menempatkan al-Banna sebagai sosok yang pantas memimpin dakwah dan aktivitas Islam pada masa di mana Islam kena musibah akibat kelemahan ulama-ulamanya, kebodohan para pengikut-pengikutnya, kebejatan para penguasa, dan kebangkitan orang-orang kaya.

Adalah sebuah langkah bijaksana, jika mau bercermin pada sejarah pergerakan Islam pada tahun-tahun belakangan. Gerakan-gerakan Islam yang cukup berhasil menggulirkan panji-panji keislaman. Dan salah satunya adalah gerakan Islam Ikhwanul Muslim.

Aunul Shah M. Abied dalam "Islam Garda Depan; Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah" mengatakan gerakan inilah yang pada gilirannya banyak mewarnai gerakan-gerakan Islam lainnya di dunia Islam. Dengan semangat juang keislaman yang tinggi, di bawah komando pendirinya, Hasan al-Banna, dasar-dasar gerakan dapat dikonsep dengan rapi dan dapat menghasilkan para pejuang militan.

Berikut ini adalah bagaimana Hasan Al-Banna membangun sistem pendidikan yang merupakan instrumen terpenting bagi terwujudnya suatu perubahan dan pembinaan umat.

Muktafi Sahal dalam buku berjudul "Teologi Islam Modern" (Gitamedia Press, 1991) mengatakan pada tahun 1940an itu, di Mesir terjadi dikotomi pendidikan secara operasional, yaitu: pendidikan umum yang dikelola oleh swasta.

Dikotomi ini dikhawatirkan akan membawa kepada pemisahan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum (sekuler). Padahal menurut Hasan al-Banna, Islam cukup mencakup segala aspek di mana satu dengan yang lainnya saling terkait dan terintegral.

Dalam rangka mengantisipasi persoalan tersebut, Hasan al-Banna melontarkan gagasan berupa pendirian sekolah khusus al-Ikhwan al-Muslimin dengan kurikulum yang eksklusif.

Sebagai follow up dari gagasan tersebut, didirikan Madrasah al-Tahdzib di Ikhwan al-Muslimin, dengan kurikulum yang mencakup: materi Al-Qur’an, hadis, aqidah, akhlak, sejarah Islam dan tokoh-tokoh salaf, latihan pidato.

Adapun tujuan pendidikan yang dicanangkan al-Banna dengan kurikulum tersebut di atas adalah pembentukan pribudi muslim yang mempunyai dedikasi tinggi, dan punya semangat untuk melakukan perubahan di mana ia berada, dan tidak menyerah dengan kondisi yang ada.

(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: