Nebukadnezar, Raja Babilonia yang Sukses Mengusir Yahudi dari Palestina

 Nebukadnezar, Raja Babilonia yang Sukses Mengusir Yahudi dari Palestina

Pada saat ia menyerang Yerusalem selain merusak Baitul Maqdis, ia juga menahan Yahudi keturunan Nabi Yaqub as dan Nabi Daud as. Ilustrasi: Ist
Nebukadnezar atau Bukhtanashar (630-562 SM), adalah penguasa Kekaisaran Babilonia Baru dalam Dinasti Kasdim yang berkuasa 605 SM-562 SM. Pada saat ia menyerang Yerusalem selain merusak Baitul Maqdis , ia juga menahan kaum Yahudi keturunan Nabi Ya'qub as dan Nabi Daud as . Para keturunan Nabi dan raja ini dijadikan budak, sebagian lagi dibunuh. Mereka yang berhasil lolos, lari ke berbagai negara.

Ibnu Katsir dalam bukunya berjudul "Qashash Al-Anbiya" mengutip sejumlah riwayat memaparkan menjelang penyerangan Nebukadnezar ke Yurusalem, Allah telah mengirim utusan-Nya di tengah Bani Israil .

Sang utusan itu adalah Armiya atau Yeremia. Wahab bin Munabbih mengatakan Allah menurunkan wahyu kepada Armiya ketika berbagai macam kemaksiatan melanda di tengah-tengah kehidupan Bani Israil .

Wahyu yang diterima Nabi Armiya itu berisi peringatan Bani Israil akan kehancuran mereka. Raja Nebukadnezar akan menghancurkan mereka dengan kejam. Mendapat peringatan itu, Bani Israil menganggap Armiya gila.

Pada akhirnya, Allah mengirim Nebukadnezar dan pasukannya untuk menyerang Yerusalem. Raja Babilonia ini menawan dan menjadikan budak kaum Bani Israel.

Para tawanan yang terdiri dari anak-anak, pejabat tinggi, dan putra-putri kerajaan, semuanya ramai-ramai digiring oleh pasukan Nebukhadnesar. Jumlah tawanan dari kelompok ini mencapai 90.000 orang.

Mereka menahan dan menjadikan budak 7000 orang dari keluarga Daud as. Sejumlah 11.000 orang dari keturunan Yusuf bin Ya'qub dan saudaranya Bunyamin. Sedikitnya 8000 orang dari keturunan Isy bin Ya'qub.

Sebanyak 14.000 orang dari keturunan Zabalun dan Naftali bin Ya'qub, 14.000 ribu orang dari keturunan Dan bin Ya'qub, 8000 orang dari keturunan Yastakhar bin Ya'qub, 2000 pemuda dari keturunan Zaykun bin Ya'qub, 4000 orang dari keturunan Raubil dan Lawi, dan 12.000 orang dari semua keturunan Bani Israil.

Setelah itu, Nebukadnezar dan pasukannya merobohkan tempat-tempat ibadah di Baitul Maqdis. Babi-babi disembelih di dalamnya dan pasukannya pulang kembali ke negerinya di Babilonia dengan pampasan perang yang berlimpah.

Tempat Para Nabi

Tatkala menerima wahyu itu, Armiya sempat berkata: "Wahai Tuhanku, Mahasuci Engkau dan segala puji hanya bagi-Mu. Engkaulah yang Mahatinggi. Apakah Engkau akan menghancurkan negeri ini dan wilayah sekitarnya? Padahal, negeri ini adalah tempat para nabi-Mu (di masa dahulu) dan tempat diturunkannya wahyu-wahyu dari-Mu?"

"Wahai Tuhanku, Mahasuci Engkau. Segala Puji hanya bagi-Mu. Engkaulah Tuhan yang Mahatinggi lagi Mahaagung. Demi mihrab masjid ini, begitu pun masjid-masjid di sekitarnya dan rumah-rumah ibadah yang telah dibangun untuk mengingat dan mengagungkan diri-Mu."

"Wahai Tuhan, Mahasuci Engkau. Segala puji hanya bagi-Mu. Engkaulah yang Mahaagung lagi Mahatinggi, apakah Engkau hendak menyiksa umat ini sementara mereka berasal dari keturunan kekasih-Mu Ibrahim, Ibunda Musa, dan kaum Daud pilihan-Mu?"

Kemudian, Allah SWT berfirman: "Wahai Armiya, barangsiapa yang bermaksiat dan durhaka kepada Ku maka ia tidak bisa menghindar dan menolak siksa-Ku."

"Sesungguhnya, Aku memuliakan mereka—para pendahulu mereka itu—karena ketaatan mereka kepadaKu. Jika mereka durhaka kepada Ku niscaya Aku akan turunkan azab-Ku di negeri kaum yang durhaka itu, kecuali jika mereka mendapat rahmat dan kasih-sayang-Ku".

Dianggap Tidak Waras

Armiya telah menyampaikan risalah Allah kepada Bani Israil. Mereka telah mendengar berbagai macam ancaman azab yang disebabkan oleh kedurhakaan, kemaksiatan, dan kezaliman mereka. Mereka justru menganggap Armiya sudah tidak waras.

Tidak berhenti di sini. Mereka bahkan menangkap Armiya, mengikatnya, dan menjebloskannya ke dalam penjara.

Pada saat itulah Allah SWT mengirim Nebukhadnezar bersama pasukannya ke negeri mereka. Pasukan Nebukhadnesar mempunyai kekuatan yang sangat besar. Pasukan itu merajalela di kampung-kampung mereka, sebagaimana dijelaskan di dalam firman-Nya:

"Lalu mereka merajalela di kampung-kampung! Diceritakan bahwa setelah pengepungan terhadap negeri mereka berlangsung dalam waktu yang lama, akhirnya Nebukhadnezar dan pasukannya berhasil menerobos masuk dan menempati negeri itu sesuai dengan keketapan Allah. Mereka berhasil memasuki semua pintu dan merobohkan semua rintangan. Kejadian tersebut merupakan ketetapan dari-Nya sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya: 'Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana." (QS Al-Isra': 5)

Selanjutnya, hukum yang berlaku di tengah-tengah kehidupan mereka adalah hukum jahiliyah, yaitu hukum yang diberlakukan dengan penuh kekejaman dan kezaliman dari penguasa yang sangat bengis dan zalim.

Sepertiga penduduk dibunuh dengan kejam sementara sepertiga penduduk ditawan sebagai budak.
Orang-orang tua, anak-anak, dan orang-orang yang lemah dibiarkan terlantar. Nebukhadnesar dan pasukannya menunggang kuda sambil menginjak-injak jasad penduduk yang telah dibunuh dengan penuh kekejaman.

Setelah itu, Baitul Maqdis dirobohkan. Anak-anak dan kaum wanita digiring ramai-ramai ke pasar-pasar, tanpa mengenal ampun dan belas kasihan, meskipun mereka sudah tampak kelelahan.

Pembunuhan secara sadis terjadi di mana-mana. Benteng-benteng dan masjid-masjid dirusak dan dirobohkan. Taurat dibakar.

Selanjutnya, Nebukhadnesar dan pasukannya kembali ke negerinya dengan membawa harta benda rampasan yang sangat banyak.

Dialog Nebukhadnezar

Wahab bin Munabbih mengatakan setelah Nebukhadnezar melakukan aksi penyerangannya mereka berkata: “Kaum Bani Israil yang engkau serang itu memiliki seorang tokoh spiritual yang bernama Armiya."

"Ia telah memperingatkan kaumnya perihal dirimu yang melakukan penyerangan kepada mereka, melakukan pembunuhan massal, menghancurkan masjid-masjid dan tempat ibadah mereka, tetapi mereka mendustai dirinya, mengintimidasi, memukul, dan menjebloskannya ke dalam penjara."

Mendengar informasi itu, Nebukhadnesar segera memerintahkan agar Armiya dibebaskan dari penjara.

Setelah Armiya dikeluarkan dari penjara, Bukhtanashar bertanya: "Apakah engkau telah memperingatkan kaummu itu tentang bencana yang akan menimpa mereka?”

Armiya menjawab: "Ya”

Nebukhadnesar berkata: "Sungguh, aku mengetahui hal itu."

Armiya berkata: “Allah telah mengutus aku kepada mereka, tetapi mereka mendustai diriku."

Nebukhadnesar berkata: "Apakah mereka mendustaimu, memukulmu, dan menjebloskan dirimu ke penjara?"

Armiya menjawab: “Ya.

Nebukhadnesar berkata: “Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang mendustai nabi mereka dan mendustai risalah Tuhan mereka. Maukah engkau ikut denganku? Aku akan memuliakan dirimu dan memenuhi segala keperluanmu. Atau, jika engkau lebih suka menetap di negerimu maka aku sungguh-sungguh akan menjamin keamanan dirimu."

Armiya berkata kepada Nebukhadnesar: "Sungguh, aku senantiasa berada dalam perlindungan Allah selama aku tidak menyimpang dari ajaran-Nya sesaat pun. Seandainya Bani Israil tidak menyimpang dari ajaran-Nya, niscaya mereka tidak takut kepadamu dan kepada yang lainnya. Engkau tidak dapat menguasai mereka."

Setelah mendengar jawaban Armiya itu, Bukhtanashar segera meninggalkan Armiya seorang diri di wilayah Iliya (Yerusalem)'.

Ibnu Katsir mengatakan konteks cerita ini adalah gharib (asing). Di dalamnya mengandung berbagai macam hikmah, pengajaran, dan nasihat yang sangat berharga.
(mhy)
Miftah H. Yusufpati

No comments: