Konsep Eretz Yisrael Partai Likud, Klaim Seluruh Tanah dari Sungai Nil hingga Eufrat

 

Konsep Eretz Yisrael Partai Likud, Klaim Seluruh Tanah dari Sungai Nil hingga Eufrat
Menachem Begin. Foto/Illustrasi: snl
Mantan anggota Kongres AS , Paul Findley (1921 – 2019) menyatakan tampilnya pemerintahan Likud (Kesatuan) di bawah Menachem Begin pada 1977 merupakan suatu gempa bumi dalam politik dan kebijaksanaan Israel .

Kemenangan Begin menyingkirkan Partai Buruh sosialis Ben-Gurion, yang telah memerintah Israel sejak kelahirannya pada 1948 dan menggantikannya dengan Zionisme Revisionis . Itu merupakan kemenangan nasionalisme mesianis atas arus utama Zionisme pragmatis dan sekular.

"Likud berjaya dari 1977 hingga 1992, kecuali selama periode 1984-1988, ketika ia berbagi kekuasaan dengan partai Buruh," tulis Paul Findley, dalam bukunya berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship" yang diterjemahkan Rahmani Astuti menjadi "Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel" (Mizan, 1995).



Manifesto Partai Likud berbunyi: "Hak rakyat Yahudi atas Eretz Yisrael adalah abadi dan tidak terbantah."

Menurut Paul Findley manifesto itu sebagai omong kosong. Faktanya, perpecahan sengit telah terjadi selama beberapa dasawarsa antara kedua faksi sekular dan Zionisme mesianik dengan dua pemimpin mereka David Ben-Gurion dan Menachem Begin.

"Ben Gurion biasa menyebut kaum Revisionis sebagai kelompok Nazi dan membandingkan Begin dengan Hitler. Begin dan para pengikutnya menyebut Ben-Gurion seorang pengkhianat Yahudi," ujar Paul Findley.

Para pejabat Partai Buruh menjalankan Zionisme yang manusiawi dan mau berkompromi --sekalipun mereka tidak selalu mempraktikkannya-- dan menerima gagasan tentang pembagian Palestina pada 1947 serta rumusan pertukaran tanah untuk perdamaian sebagaimana yang termuat dalam Resolusi PBB 242, namun para pejabat Likud tidak mau melakukan kepura-puraan semacam itu.

Menurut Paul Findley, prinsip utama dan yang menjadi penuntun dari kepercayaan mereka adalah klaim Yahudi atas Eretz Yisrael.

Paul Findley menjelaskan dalam bahasa Ibrani, Eretz Yisrael berarti "Tanah Israel," suatu frasa yang kental dengan perasaan nasionalis dan mesianik yang sangat kuat dan mengisyaratkan kekuasaan Yahudi atas seluruh Palestina serta Yordania. "Bagi kaum Revisionis, klaim Yahudi mencakup seluruh tanah antara sungai Nil hingga sungai Eufrat," kata Paul Findley.

Konsep Eretz Yisrael, Israel yang lebih besar, menjadi keyakinan yang paling teguh dipegang oleh dua perdana menteri Likud yang pertama, Menachem Begin dan Yitzhak Shamir, dan merupakan inti dari filosofi Likud.

Kedua orang itu adalah penduduk asli Polandia yang menjadi pemimpin kedua kelompok teroris Yahudi terbesar di Palestina sebelum 1948. Keduanya adalah murid dari ajaran darah-dan-kehormatan Zionis Revisionis Vladimir Jabotinsky, dan keduanya mengabdikan hidup mereka untuk menegakkan kekuasaan Yahudi atas seluruh Palestina.

Keduanya menolak Rencana Pembagian PBB 1947 karena rencana itu tidak memberikan pada bangsa Yahudi seluruh tanah Palestina.

Sebagaimana dikatakan Begin pada 1947: "Tanah air kita tidak dapat dibagi-bagi. Setiap usaha untuk memotong-motongnya bukan hanya kriminal melainkan tidak sah. Orang yang tidak mengakui hak kita atas seluruh tanah air ini berarti tidak mengakui hak kita atas bagian mana pun darinya."

Dia menambahkan: "Kita tidak akan pernah menyetujui pembagian tanah air kita." Organisasi teroris Begin, Irgun, menggunakan lencana dan slogan "Kedua sisi Yordan," yang mengacu pada klaim-klaim Yahudi atas seluruh Palestina dan Yordania. Begin tidak pernah melepaskan ambisi itu.

(mhy)Miftah H. Yusufpati

No comments: