Ibnu Shayyad, Orang Yahudi Madinah yang Dianggap Dajjal

 

Ibnu Shayyad, Orang Yahudi Madinah yang Dianggap Dajjal
sosok Ibnu Shayyad muncul pada zaman Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam dan dia adalah orang Yahudi Madinah, karena kemampuannya dia dianggap sebagai dajjal. Foto ilustrasi/ist
Beredar di kalangan umat Islam, Ibnu Shayyad memang mengundang kontroversi, yakni apakah dia benar-benar Dajjal ataukah hanya salah satu pengikut Dajjal atau Dajjal kecil?

Dalam beberapa kitab, para ulama telah menjelaskan tentang hal ini. Buku yang menjelaskan soal Ibnu Shayyad antara lain ada di buku Al-Mahdi fi Muwajahati ad-Dajjal, yang ditulis oleh Syaikh Mansur 'Abdul Hakim. Buku tersebut menjelaskan bahwa Ibnu Shayyad muncul pada zaman Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam dan dia adalah orang Yahudi Madinah.

Jabir bin 'Abdillah Radhiyallahu'anhuma berkata, "ada seorang wanita yang melahirkan anak lelaki, matanya buta setelah dan bergigi taring panjang. Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam khawatir kalau ia adalah Dajjal . Beliau mendapatinya sedang tidur mendengkur dengan selimut yang tebal. Lalu ibunya membangunkannya.

Maka Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bertanya, "wahai Ibnu Shayyad, apa yang engkau lihat?" Dia menjawab, "Aku melihat kebenaran dan istana di atas air".

RasulullahShallallahu "Alaihi wa Sallamberkata kepada Umar bin al-Khaththabradhiallahu anhu : “Jika ia (Ibnu Shayyad) adalah dia (Dajjal), engkau tidak akan mampu mengalahkannya. Jika bukan, sia-sialah kamu membunuhnya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmadrahimahullah, Imam al-Bukharirahimahullah, Imam Muslimrahimahullahdalam “Kitabul Fitan wa Asyrathus Sa’ah” , Imam Abu Dawud, dan oleh “Imam at-Tirmidzi.

Hadis di atas secara lengkap diriwayatkan dari jalan az-Zuhri, dari Salim bin Abdillah, beliau memberitakan bahwa Abdullah ibnu Umar radhyallahu anhuma memberitakan bahwa Umar radhiallahu anhu berangkat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan sekelompok orang menemui Ibnu Shayyad. Mereka melihatnya tengah bermain-main dengan sejumlah anak laki-laki di dekat benteng dari tembok batu Bani Maghalah.

Ketika itu Ibnu Shayyad adalah seorang bocah yang usianya mendekati baligh. Dia tidak memperhatikan (kami) hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menepuknya dengan tangan beliau. Beliau berkata, “Apakah engkau bersaksi bahwa aku utusan Allah?”

Ibnu Shayyad melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan bagi al-ummiyyin (orang-orang yang ummi).” Kemudian, Ibnu Shayyad bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Apakah Anda bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyangkalnya dan berkata, “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata (kepada Ibnu Shayyad), “Apa yang kamu lihat?”

Ibnu Shayyad menjawab, “Datang kepadaku yang jujur dan yang dusta. Rasulullah berkata kepadanya, “Tercampur padamu persoalan ini.” Lalu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya (bermaksud menguji), “Aku menyembunyikan sesuatu untukmu.” Ibnu Shayyad menebak, “Ad-Dukh (asap/kabut).”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Tetaplah di tempatmu. Engkau tidak akan melampaui apa yang telah Allah takdirkan padamu.”

Mendengar hal itu, Umar radhiallahu anhu berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apabila dia (adalah Dajjal), engkau tidak mampu mengalahkannya. Jika bukan, sia-sialah membunuhnya.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Ibnu Shayyad dapat mengetahui urusan ghaib dengan metode sihir dan melalui lisannya jin. Dalam beberapa kitab disebutkan bahwa Ibnu Shayyad adalah tukang dusta, terkadang ia menjadi dukun yang ucapannya bisa jadi benar atau salah. Kemudian tersebar kabar tentangnya di tengah-tengah manusia bahwasanya dia adalah Dajjal.Namanya adalah Shafi -ada juga yang mengatakan ‘Abdullah- bin Shayyad atau Shaa-id.

Dalam Syarah Hadis Muslim, Imam Nawawi menjelaskan, para ulama mengatakan, “Kisahnya sangat musykil (sukar difahami) dan masalahnya samar-samar, apakah dia itu Al-Masih Ad-Daijal yang terkenal itu ataukah lainnya? Tetapi tidak disangsikan lagi bahwa dia adalah salah satu Dajjal (pendusta besar) di antara dajjal-dajjal.”

Para ulama itu mengatakan, “Zhahir hadis-hadis itu menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mendapat wahyu yang menerangkan apakah Ibnu Shayyad itu Al-Masih Ad-Dajjal atau bukan, tetapi beliau hanya mendapat wahyu mengenai ciri-ciri Dajjal, sedangkan pada diri Ibnu Shayyad ada kemiripan dengan ciri-ciri tersebut.

Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memastikan Ibnu Shayyad itu sebagai Dajjal atau bukan. Dan karena itu pula beliau berkata kepada Umar Radhiyallahu anhu, “Jika Ibnu Shayyad itu adalah Dajjal, maka engkau tidak akan dapat membunuhnya.”

Dalam Lihat al-Furqaan baina Auliyaa-ir Rahmaan wa Auliyaa-isy Syaithaan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan bahwa masalah Ibnu Shayyad telah menjadi sesuatu yang rumit bagi sebagian Sahabat.

Mereka mengira bahwa dia adalah Dajjal, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) sehingga jelas bagi beliau setelah itu bahwa dia bukan Dajjal. Tetapi para ulama ada yang berpendapat Ibnu Shayyad adalah Dajjal di antara Dajjal kecil yang menjadi pendukung Dajjal yang sebenarnya.

Wallahu 'Alam
(wid)Widaningsih

No comments: