Asal-usul Yahudi Madinah yang Terusir dalam Perang Khaibar

Inilah Asal-usul Yahudi Madinah yang Terusir dalam Perang Khaibar
Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj sebagai pemersatu mereka. Ilustrasi: Ist
Perang Khaibar meletus tahun 628 M. Ini adalah pertempuran yang terjadi antara umat Islam yang dipimpin Nabi Muhammad SAW dengan umat Yahudi yang hidup di oasis Khaybar, sekitar 150 km dari Madinah, Arab Saudi. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan umat Islam. Kala itu, umat Yahudi diusir dari Khaybar.

Lalu, dari manakah asal-usul Yahudi di Madinah tersebut? Menurut Yakhsyallah Mansur dalam bukunya berjudul Ash-Shuffah, tidak ada kesamaan pandangan para ahli sejarah tentang asal-usul bangsa Yahudi yang tinggal di Yatsrib atau Madinah, dari mana mereka pindah dan kapan mereka datang.

Menurut sumber yang paling kuat, mereka datang dari Syam pada abad pertama dan kedua sebelum Masehi ketika pasukan Romawi berhasil menguasai Suriah dan Mesir.

Hal ini membuat bangsa Yahudi eksodus ke Jazirah Arab yang relatif terhindar dari kekuasaan bangsa Romawi yang mereka takuti. Eksodus ini mencapai puncaknya setelah kegagalan bangsa Yahudi memberontak melawan bangsa Romawi dan berhasil dipadamkan oleh Kaisar Titus pada tahun 70 M.

Bangsa Yahudi yang lain eksodus ke Yatsrib pasca-kegagalan mereka memberontak melawan Kaisar Hedrian antara tahun 132-135 M.

Menurut pandangan lain, eksodus bangsa Yahudi ke Yatsrib didorong para pendeta mereka yang mengetahui dari kitab Taurat bahwa akan lahir nabi yang terakhir (messias) di Kota Makkah dan akan berpindah ke negeri yang memiliki kebun kurma yang terletak di antara bebatuan gunung berapi yang hitam. Kemudian mereka meninggalkan Syam mencari tempat tersebut.

"Ketika mereka sampai di Yatsrib kota ini mempunyai sifat-sifat yang disebutkan di dalam Kitab Taurat mereka menetap di kota itu," tulis Yakhsyallah Mansur.

Komunitas bangsa Yahudi ini terdiri dari beberapa suku, yang paling terkenal ada tiga suku yaitu Bani Qainuqa, Bani an-Nadhir, dan Bani Quraizhah.

Ketiga suku ini menempati lokasi yang berbeda. Bani Qainuqa tinggal di dalam kota sedang Bani Nadhir dan Bani Quraizhah tinggal di luar kota di daerah perbukitan yang subur.

Di samping itu, terdapat suku-suku yang kecil-kecil seperti Bani Qahmam, Bani Masikah, Bani Zaura, Bani Mizayah, Bani Akan, Bani Hajar, Bani Zaid al-Lat, Bani Luqamqah dan Bani Tsa'labah.

Sumber-sumber data statistik tidak menyebutkan berapa jumlah orang Yahudi Yatsrib. "Tetapi buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Bani Qainuqa' memiliki 700 tentara," kata Yakhsyallah Mansur.

Demikian juga dengan jumlah tentara Bani Nadhir. Sementara Bani Quraizhah memiliki 700 sampai 900 tentara. Jumlah tentara ketiga suku ini lebih dari 2.000 orang. Ini belum lagi ditambah dengan suku-suku kecil yang tersebar di beberapa tempat di kota Yatsrib yang jumlahnya mencapai 20 suku.

Bangsa Yahudi mendominasi kehidupan kota Yatsrib secara ekonomi, politik, maupun intelektual. Mereka telah meninggalkan pengaruh di masyarakat Yatsrib dan suku-suku Aran di sekelilingnya.

Sebelum Nabi hijrah ke Madinah, secara umum, wilayah ini dihuni kabilah besar yang saling bertikai yakni kabilah Aus dan Khazraj, serta berbagai kabilah dan klan Yahudi di sisi lain. Masing-masing mereka memperebutkan dominasi atas Yatsrib. Kerap terjadi perang di antara kedua pihak ini.

Pertempuran dan perselisihan itu melelahkan semua pihak; sayang tidak ada di antara mereka yang memiliki wibawa yang dapat mempersatukan kelompok-kelompok yang bertikai ini.

Orang-orang Yahudi sering mengemukakan kepada Aus dan Khazraj, bahwa akan datang seorang Nabi (dari kelompok mereka), dan bila ia datang pastilah kaum Yahudi akan mengalahkan musuh-musuhnya.

Perang terakhir mereka adalah Perang Bu'ats, yaitu antara kabilah Aus dan sekutu mereka Bani Quraizhah dengan Bani Nadhir dan Khazraj serta sekutu mereka Bani Qainuqa. Perang ini terjadi tak berapa lama sebelum Nabi hijrah ke Yatsrib. Perang ini populer dan dianggap sebagai perseteruan terakhir antara suku Aus dan Khazraj.

Kemudian datanglah Rasulullah ke Madinah yang saat itu Madinah dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul al-Awfi Khazraji. Bahkan, kaumnya sudah membuat mahkota sebagai simbol penobatan sang pemimpin menjadi raja. Tetapi, rencana itu tak terlaksana akibat tibanya sang Nabi yang disambut para pengikutnya dari kaum Anshar.

Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke Madinah, disambut baik oleh Aus dan Khazraj bukan saja sebagai pemersatu mereka yang selama ini telah lelah bertempur dan mendambakan perdamaian, tetapi juga karena mereka yakin bahwa beliau adalah utusan Allah, yang sebelumnya telah mereka ketahui kehadirannya melalui orang-orang Yahudi.

(mhy)
 Miftah H. Yusufpati

No comments: