Kisah Umar Menangis Saat Melihat Ghanimah Dipenuhi Permata

 Kisah Umar Menangis Saat Melihat Ghanimah Dipenuhi Permata

Umar bin Khattab saat menjadi Amirul Mukminin pernah menangis ketika melihat ghanimah dipenuhi permata. Foto/tangkapan layar Film serial Umar
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat Nabi yang memiliki banyak keutamaan. Beliau adalah figur panutan sepanjang zaman.

Allah Ta'ala menjadikan kebenaran atas lisan dan hatinya Umar. Selain berani menegakkan amar makruf nahi munkar, Umar bin Khattab dikenal sangat zuhud dan tidak silau dengan kekuasaan maupun harta kekayaan.

Tak heran jika Baginda Rasulullah SAW memujinya dengan bersabda: "Ikutilah dua orang sepeninggalku, yaitu Abu Bakar dan Umar." (HR Ahmad)

Ada satu kisah Umar bin Khattab yang sarat dengan hikmah dan pelajaran. Dalam satu kajian Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq diceritakan betapa zuhudnya Umar bin Khattab.

Pernah didatangkan kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ghanimah (harta yang diperoleh dari hasil perang) dalam jumlah yang sangat besar dari kemenangan jihad di Persia. Harta-harta itu masih tersimpan rapi dalam bungkusan dan peti-peti yang terkunci.

Salah seorang sahabat bertanya kepada Umar bin Khattab:

أتجعلها في بيت المال حتى تقسمها ؟

Artinya: "Apakah kami boleh menyimpannya di Baitul Mal, sampai engkau membaginya?"

Sayidina Umar menjawab:

لا والله لا آويها إلى سقف حتى أمضيها

Artinya: "Jangan demi Allah, harta-harta ini jangan dinaungi dengan atap hingga aku menghabiskannya."

Maka ghanimah itupun akhirnya diletakkan begitu saja di sisi Masjid Nabawi. Ketika esok hari tiba waktu Subuh, dibukalah bungkus dari harta-harta itu. Maka berkilauanlah permata-permata yang ada di dalamnya. Ada yang memancarkan cahaya merah dan ada yang berwarna putih, hingga menyilaukan setiap mata yang memandangnya.

Ketika Sayyidina Umar menyaksikan hal ini, beliau tiba-tiba menangis. Maka salah seorang sahabat bertanya heran kepadanya:

ما يبكيك يا أمير المؤمنين فوالله إن هذا ليوم شكر ويوم سرور

Artinya: "Mengapa engkau menangis wahai Amirul Mukminin? Sungguh demi Allah, ini adalah hari untuk bersyukur dan bergembira."

Sayidina Umar pun menjawab:

ويحك إن هذا لم يعطه قوم إلا ألقيت بينهم العداوة والبغضاء

Artinya: "Celaka engkau, sebaliknya tidaklah suatu kaum diberi yang seperti ini, kecuali akan ditimpa permusuhan dan kebencian di antara mereka."

Referensi:
Siyar A'lam Nubala (1/85)

(rhs)Rusman Hidayat Siregar

No comments: