Raja Persia Melarikan Diri, Sa'ad bin Abi Waqqash Duduki Istana

Raja Persia Melarikan Diri, Saad bin Abi Waqqash Duduki Istana
Ilustrasi/Ist
SA'AD bin Abi Waqqash tinggal di Istana Kisra dan pasukan Muslimin yang lain menempati gedung-gedung di sekitar Istana itu menikmati segala kesenangan yang ada di situ. Tentu saja mereka hidup senang. 

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Umar bin Khattab" memaparkan mereka sudah mendapat bagian rampasan perang yang akan cukup untuk hidup beberapa tahun. Bahan makanan yang akan didatangkan dari daerah-daerah berdekatan pun cukup banyak dan mudah. Air di Sungai Tigris yang mengalir lancar akan membuat mereka lupa daerah pedalaman yang hanya ditimbuni pasir. 

Jembatan yang menghubungkan Seleusia dengan Ctesiphon membuat kedua kota yang indah ini sebagai tempat rekreasi bagi mereka yang hidup bermewah-mewah, layak sekali akan memberi ilham kepada penyair Arab. 
Adakalanya orang berkumpul dan bertemu dengan Sa’ad di Istana Kisra itu. Dengan kalangan yang mempunyai pengetahuan, Sa’ad berbicara tentang sejarah daerah-daerah itu. Sa’ad misalnya mengatakan tentang daerah itu masa dahulu sebagai pusat kebudayaan dunia, dan mereka menanggapi. 

Di berbagai tempat di kawasan itu berdiri kerajaan-kerajaan Babilonia, Asiria dan Kaldea. Kerajaan-kerajaan itu ada yang bertahan, ada juga yang tiba-tiba muncul kemudian ditinggalkan.

Jauh di masa silam, nama Mesopotamia ("Antara Dua Sungai") juga sudah dipakai nama untuk daerah-daerah ini — nama yang sudah dipakai sejak masa Firaun lama, tatkala kedaulatan Mesir membentang jauh ke sana. 

Sesudah masa kekuasaan Firaun itu, nama demikian juga dikenal ketika kawasan ini berada di bawah kekuasaan Yunani. Tidak heran bilamana nama ini bertahan sampai sekarang, yang melukiskan letak daerah Mesopotamia itu, dengan airnya yang mengalir memberi kemakmuran ke kawasan itu. 

Irak disebut "Antara Dua Sungai" (Mesopotamia) baru sesudah berada di bawah kekuasaan Persia. Kekuatan Persia bergerak ke kawasan ini dari dataran Iran setelah kekuasaan Firaun dan Yunani dihalau dari sana. Mereka menyusuri pantai-pantai Tigris dan di seberangnya, lalu mendirikan Ctesiphon sebagai ibu kota kerajaannya. 

Dari sana dan dari ketujuh kota di sekitarnya serta Seleusia Yunani yang berdiri sendiri dibangunlah kota "al-Mada'in" ang keagungannya, luas kekuasaannya, kekayaannya yang melimpah serta kemakmuran rakyatnya, selama berabad-abad menjadi kebanggaan sejarah. Kalau kota-kota di Mesopotamia itu berbatasan dengan 'al-Iraq al- Ajami' (Irak-Persia), nama yang lebih umum dipakai di sini ialah Persia, dan mereka menganggapnya sebagian dari Persia, sama dengan Seleusia yang mereka dianggap sebagian dari Ctesiphon. Sejak itu nama Irak disebut menurut nama kota-kota itu.

Irak yang dimenangkan pasukan Muslimin dari Persia ini membentang dari Delta dua sungai di selatan sampai ke utara sebelum Mosul (Mausil), berbatasan di bagian hulu dengan Syam yang besar sekali pengaruhnya dalam sejarah Persia dan Rumawi, yang juga kemudian berpengaruh dalam sejarah pembebasan yang dilakukan Islam. 

Perbatasan Irak dengan Syam telah menyebabkan berpindahnya agama-agama yang lahir di Palestina dan daerah-daerah sekitarnya, sampai pada waktu paganisme Yunani dan Majusi Persia datang menyerangnya. 

Itu sebabnya di sini terdapat sebuah koloni besar terdiri atas orang-orang Yahudi, juga orang-orang Nasrani setelah pindah ke Syam kemudian berimigrasi ke mari. 

Mengingat kota-kota di Mesopotamia itu bertetangga dengan tanah Arab, yang juga bertetangga dengan Persia, banyak kabilah Semenanjung itu yang berimigrasi, menetap dan bertempat tinggal di sana. 

Ketika pasukan Muslimin menyerbu Mesopotamia, kawasan ini sudah biasa mereka sebut Irak dan tidak pernah menyebut nama lain. Kemudian kawasan di antara Sungai Tigris-Furat dan sekitarnya mereka namakan as-Sawad. Untuk membedakan Irak ini dengan Irak-Ajam, oleh para sejarawan yang satu diberi nama 'al-'Iraq al-'arabi' (Irak- Arab) dan yang lain 'al-'Iraq al-'ajami' (Irak-Persia). 

Sifat tanah kedua Irak ini sangat berbeda sekali. Irak-Arab merupakan dataran yang dialiri kedua sungai itu, di sana sini tersebar sungai-sungai kecil, anak-anak sungai dan kolam-kolam, sehingga sebagian tampak hijau segar dan subur oleh buah-buahan. Di ujung timur sampai di gunung dengan puncaknya yang tinggi yang memisahkannya dari Irak-Ajam, di belakang berturut-turut pegunungan dan lembah-lembah sampai ke dataran Iran. 

Gunung ini memang merupakan penyekat alam yang kukuh sekali, memisahkan Asia di bagian timur jauh dari negeri-negeri Asia yang terletak di bagian barat, dan yang karenanya pula lebih banyak berhubungan dengan bangsa-bangsa yang ada di sekitar Laut Tengah (Mediterania) di Afrika dan Eropa daripada dengan negeri-negeri tetangga di Timur.

Pengaruh letak geografis inilah yang memungkinkan kabilah- kabilah Arab berimigrasi ke Irak dan Syam. Rumah-rumah ras Arab ini bertebaran dari Teluk Aden dan Samudera Indonesia di selatan sampai jauh ke utara di Irak dan Syam.

Kabilah-kabilah ini — seperti juga sejumlah besar tanah Semenanjung Arab — selama berabad-abad berada di bawah kekuasaan Persia dan Romawi. 

Sekarang orang-orang Arab Semenanjung berbalik menyerang kedua kerajaan besar ini hingga mencapai Damsyik di Syam dan Mada'in di Irak, dan Sa’ad bin Abi Waqqas tinggal di Istana Kisra di ibu kota kerajaan itu. 
Sa’ad tinggal di ibu kota cantik ini sampai pasukannya berkumpul semua. Sudah tidak perlu lagi ia memburu pasukan Persia di Irak yang terbentang luas sampai ke balik Sungai Tigris, juga Umar tidak mengizinkan untuk memburu mereka. Oleh karena itu tidak lebih ia hanya mengikuti berita-berita tentang mereka dengan cermat sambil mengirim mata-mata untuk kemudian melaporkan kepadanya. (Bersambung)
(mhy) Miftah H. Yusufpati

No comments: