Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim

Miftah H. Yusufpati

 Kesalahan Fatal Kaisar Persia Memberi Hadiah Tanah Kepada Delegasi Muslim

Ilustrasi/Ist
DELEGASI muslim tidak merasa takut karena kemarahan Kaisar Persia Yazdigird atau akan merasa gentar menghadapi ancamannya. Malah Asim bin Amr berdiri dan mengangkat sendiri tanah itu ke bahunya seraya berkata: "Sayalah pemimpin mereka!" 

Lalu ia pergi membawa tanah itu keluar dari Iwan (balairung) Kisra. Setelah itu ia menaiki kudanya dan pergi bersama kawan-kawannya menuju Kadisiah. Begitu sampai ia menemui Sa’ad bin Abi Waqqash di benteng Fudaik dan menceritakan semua kejadian itu dan bagaimana sampai ia membawa tanah Persia itu seraya berkata: "Ini berita bagus. Allah telah memberikan kunci kerajaan mereka kepada kita." 

Selanjutnya Yazdigird memanggil pembesar-pembesarnya dan memanggil juga panglima perang tertinggi Persia, Rustum dari Sabat dengan menceritakan kepada mereka pertemuannya dengan delegasi Muslimin itu, dan katanya ia menganggap pemimpin mereka orang pandir, bodoh, karena telah membawa tanah di atas kepalanya. Kalau mau, dapat saja ia menyuruh orang lain. 

Lalu kata Rustum bin Farrakhzad kepadanya: Dia tidak pandir, juga bukan pemimpin mereka. Tetapi dia bermaksud mempertaruhkan diri demi masyarakatnya. Dari apa yang didengarnya itu Rustum kemudian meramal. Dia keluar dari tempat Raja dengan perasaan marah bercampur sedih. Soalnya, karena dia seorang peramal bintang-bintang sudah menunjukkan, bahwa orang-orang yang keluar dari Mada'in membawa tanahnya berarti mereka keluar akan membawa bumi Persia.

Untuk menjaga akibat ramalan ini, setelah mereka pergi ia memanggil seseorang dan katanya: "Kalau tanah itu dapat disusul dan dikembalikan kepada kita, kita akan dapat mengatasi masalah. Kalau sampai mereka berhasil membawanya kepada pemimpin mereka, berarti mereka akan menguasai bumi kita."

Ternyata orang itu tak dapat mereka susul. Rustum bertambah pesimistis dan menganggap pendapat dan perbuatan Raja itu sangat keji. 
Tetapi, sungguhpun begitu ia dapat menentang Raja tatkala ia diperintahkan pergi mengadakan serangan kepada pasukan Muslimin. Ketika itu Yazdigird berkata kepadanya: "Berangkatlah; kalau tidak saya sendiri yang akan berangkat." 

Rustum berangkat dari Sabat, dengan memerintahkan Jalinus di barisan depan memimpin 40.000 prajurit, dan dia sendiri memimpin 60.000, dengan menempatkan Hormuzan di sayap kanan, dan di sayap kiri Mehran Bahram Razi. 

Kemudian ia menulis surat kepada saudaranya, Bendawan: "Maka perkuatlah benteng-benteng kalian dan persiapkanlah kekuatan kalian, sehingga seolah-olah pasukan Arab itu sudah memerangi negeri dan keluarga kalian. Saya berpendapat mereka harus dicegah dan dilawan sehingga keberuntungan mereka akan berbalik menjadi kekalahan." 

Setelah menerangkan apa yang telah dilihatnya dalam ramalan nujum ia menyudahi suratnya dengan mengatakan: "Saya kira mereka akan mengalahkan kita dan menguasai segala milik kita." 

Kendatipun begitu ia meneruskan perjalanannya seolah-olah takdir sudah memaksanya untuk menghancurkan Persia, termasuk dia sendiri. 

Menurut sumber yang sudah umum diketahui, bahwa Rustum sendiri seorang ahli ilmu nujum, dan bahwa dengan itu ia sudah melihat apa yang akan terjadi terhadap Persia. Ambisi dan kesombongannya itulah yang membuatnya menentang apa yang dilihatnya itu, dan dalam mengurus negeri ia bersekutu dengan Boran. 

Kepergiannya memimpin pasukan untuk menghadapi Sa’ad bin Abi Waqqas dan pasukan Muslimin adalah atas perintah Yazdigird. 

Perjalanan Rustum ke Kadisiah 
Sementara Rustum berangkat memimpin 120.000 anggota pasukan Persia, Sa’ad juga sedang mengerahkan pasukannya ke Najaf, Firad dan kampung-kampung para kabilah yang tersebar di Sawad; dan menggiring binatang, ternak, hasil bumi dan berbagai macam makanan untuk pasukannya. 

Rustum sudah sampai di Hirah, yang ketika itu sudah mengadakan perjanjian damai dengan pasukan Muslimin. la memanggil pemuka-pemuka kota itu dan menyalahkan perbuatan mereka. Mereka diancam dan hampir saja menjadi sasaran pembalasan dendamnya. Salah seorang pemuka mereka yang lebih bijak berkata kepadanya: Kalian jangan mengambil keputusan untuk tidak membantu kami, dan menyalahkan kami karena kami tidak membela diri.

Rustum sudah melewati Hirah menuju Najaf, dan Jalinus ke Sailahin. Ketika di Najaf itulah ia mengetahui bahwa pasukan berkuda Muslimin menyerang kawasan Furat dan Tigris. Maka ia pun mengirimkan angkatan bersenjatanya untuk memerangi mereka. Pihak penyerang pun sudah pula mengetahui berita tentang angkatan bersenjata ini. 

Amr bin Ma'di Karib menarik mundur pasukannya, kecuali Tulaihah bin Khuwailid al-Asadi, ia tidak mau kembali bersama mereka. Ketika melihat penolakan itu salah seorang anggota pasukannya berkata: "Dalam dirimu sendiri sudah ada pengkhianatan. Sesudah Ukkasyah bin Mihsan terbunuh Anda tak akan berhasil." 

la mengacu pada anak buah Tulaihah ketika orang ini dulu mendakwakan dirinya nabi dan memerangi Khalid bin Walid dalam Perang Buzakhah. 

Sungguhpun begitu Tulaihah tetap bersikeras menolak mundur. la meneruskan perjuangannya sampai masuk ke dalam markas Rustum dengan sembunyi-sembunyi dan membunuh dua orang anggota pasukan berkudanya dan membawa kedua kuda orang-orang itu. Sesudah itu ia pergi memacu kudanya. Sekelompok perwira anak buah Rustum mengejarnya. Ketika sudah mendekati markasnya ia dapat membunuh dua orang di antara mereka dan yang seorang lagi ditawan. 

Sampai di situ mereka yang mengejarnya kembali. Dengan membawa tawanannya itu ia masuk menemui Sa’ad. Ketika oleh Sa’ad ditanya mengenai perbuatan 

Tulaihah berkata: "Saya sudah terjun ke dalam peperangan sejak saya masih anak-anak. Saya sudah mendengar cerita tentang para pahlawan, tetapi saya belum mendengar yang seperti ini: orang ini menempuh perjalanan sejauh dua farsakh ke sebuah markas yang dihuni oleh 70.000 anggota pasukan. Dia tidak mau keluar sebelum merampas beberapa kuda tentara dan memorakporandakan tenda-tenda besar. Setelah kami berhasil menyusulnya, orang pertama yang sama dengan seribu kesatria, dibunuhnya; kemudian orang yang kedua, sama dengan yang pertama. Setelah itu saya menyusulnya dan saya menunjuk pengganti saya untuk mengimbangi saya. Saya yang akan menuntut balas atas kematian dua orang itu. Saya sudah melihat maut tetapi sekarang saya menjadi tawanan." (Baca juga: Sang Pembebas Irak Itu Bernama Musanna Bin Harisah)

Ramalan Rustum 
Rustum meneruskan perjalanannya hingga sampai ke Kadisiah sesudah menghabiskan waktu empat bulan sejak ia meninggalkan Mada'in untuk berperang menghadapi musuh. Tetapi dengan perlahan-lahan dan berlambat-lambat demikian, menurut perkiraannya, pihak Arab akan menjadi lemah kalau mereka tidak mendapat bahan makanan yang cukup, atau mereka akan menjadi bosan sendiri tinggal 
terlalu lama, dan akan kembali pulang. Juga berlambat-lambat begitu untuk menghindari pertemuannya dengan Sa’ad, mengingat ramalan buruk yang sudah diisyaratkan oleh pernujuman mengenai nasib Persia. (Baca juga: Kisah Budak Taglabi yang Berhasil Membunuh Panglima Perang Persia)

Seperti yang sudah kita lihat, dia lebih suka tinggal di Mada'in dan akan mengadakan mobilisasi untuk memerangi pihak Arab, pasukan demi pasukan, sampai barisan mereka berantakan dan semangat mereka menjadi surut. Tetapi Yazdigird menolak pendapatnya itu dan memerintahkannya ia sendiri yang harus berangkat. Itulah sebabnya ia berlambat-lambat sampai memakan waktu empat bulan dalam perjalanan yang sebenarnya dapat ditempuh dalam beberapa hari saja. (Bersambung)
(mhy)

No comments: