Yahudi dalam Al-Quran

yahudi1 Yahudi dalam Al Quran
TIDAK sedikit al-Quran berbicara tentang Bani Israel, watak dan moral mereka serta para nabi dan sejarah mereka.
Surah-surah Makkiyah dipenuhi dengan pemaparan historis tentang kisah-kisah mereka, siksa Firaun terhadap mereka, dan kondisi mereka pada masa sebelum kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Sedangkan surah-surah Madaniyah membicarakan tentang sikap mereka terhadap dakwah Islam dan kenabian baru, hakikat Yahudi dan kekufuran mereka ‘kepada Allah, serta pembunuhan mereka terhadap para nabi dan kecintaan mereka pada kehidupan materi.
Ketika berbicara mengenai Bani Israel, al-Quran menghubungankan antara watak dan moral Bani Israel yang hidup pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan watak dan moral leluhur mereka yang hidup pada zaman Musa a.s., Isa a.s. dan nabi-nabi lainnya.
Hal tersebut dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa kefasikan, kedurhakaan, sikap memusuhi dakwah Islam dan ajakan tauhid yang dimiliki Bani Israel adalah warisan dari watak dan perilaku buruk nenek moyang mereka.
Banyak tulisan yang membicarakan tentang Yahudi dan sejarah politik, ekonomi dan militer mereka, namun studi mengenai aspek religius dan analisa kepribadian Yahudi dalam perspektif al-Quran dan Sunnah masih sedikit dan perlu ditingkatkan lagi. Mempelajari model, perilaku dan struktur kejiwaan Yahudi melalui teks-teks al-Quran akan menjelaskan kepada kita cacat mental dan penyakit-penyakit kejiwaan yang diderita Bani Israel, di mana kita dapat menangkap gambaran seutuhnya tentang kepribadian Yahudi yang sering mendapatkan petaka kehinaan sepanjang sejarah manusia. Ditambah lagi dengan Sunnah yang menjelaskan kepada kita persinggungan Rasulullah dengan kejiwaan dan perilaku strategis Yahudi, bagaimana beliau dapat menaklukan mereka secara politik dan psikis di Madinah.
Sejarah memaparkan, orang-orang Yahudi adalah sekelompok kecil manusia dengan mitos-mitosnya yang meresahkan dunia. Al-Quran menggambarkan perilaku mereka dalam ayat berikut, “Dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS. Al-Ma’idah: 64)
Meskipun demikian, di antara orang-orang Yahudi terdapat pula manusia-manusia pilihan. Al-Quran memuji mereka dengan kesalehan, ketakwaan dan sikap tauhid mereka. Al-Quran memandang mereka sebagai kekasih-kekasih Allah. Kita pun diajak untuk mencintai mereka. Mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk, yang menyeru pada kemuliaan, kesalehan dan ketauhidan. Namun sayang, jumlah mereka sangat sedikit. “Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)
Di antara orang-orang yang saleh itu adalah para nabi dan rasul, seperti Yakub a.s., Yusuf a.s., Musa a.s., Harun a.s., Daud a.s., Sulaiman a.s., Zakaria a.s., Yahya a.s. dan Isa a.s. Di antara mereka juga ada beberapa orang yang dikisahkan al-Quran dengan semangat keagamaan dan jihad mereka, seperti Thalut.
“Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan benar dan dengan kebenaran itulah mereka menjalankan keadilan.” (QS. Al-A”raf: 159)
Surah as-Sajdah menceritakan tentang kesabaran, keteguhan dan keimanan kelompok istimewa ini, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24) Dalam surah lain, Allah juga berfirman tentang mereka, “Dan Kami bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian.” (QS. Al-A’raf: 168)
Demikianlah, al-Quran memandang sekelompok manusia Israel ini dengan pandangan penuh hormat dan kagum. “Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israel disebabkan kesabaran mereka.” (QS. Al-A’raf: 137) Dan kesaksian al-Quran akan hal itu cukup banyak.
Sejarah manusia mukmin Bani Israel adalah sejarah terang dan terpuji. Ia merupakan bagian dari sejarah Islam kita yang terang. Ia adalah sumber kebaikan, peringatan dan pelajaran bagi kita, sebagai kaum muslim. Kita lebih berhak untuk dekat dengan mereka ketimbang Bani Israel sendiri. Karena kita dengan mereka bertemu dalam tauhid, iman dan Islam. Mereka adalah suri teladan bagi kita selamanya.
Sedangkan sejarah Bani Israel yang lain adalah sejarah hitam kelam tentang kekufuran kepada Allah, pengingkaran kepada kebenaran, mendustakan para rasul, membunuh para nabi, melanggar perjanjian, menolak aturan dan berlaku kriminal, zalim dan merusak. Sejarah kelam Yahudi ini adalah sejarah yang amat panjang. Sejarah ini adalah sejarah ketika mereka meminta Musa untuk menampakkan Allah seeara terang-terangan, melanggar perjanjian yang mereka buat, menolak “manna” dan “salwa”, meminta sayur-mayur, timun, bawang putih, kacang adas dan bawang merah. Sejarah tentang kekufuran mereka kepada Allah dan menyembah anak sapi, menyembah harta dan emas. Sejarah tentang kehinaan dan ketakutan, menolak jihad dan perang, menolak masuk ke tanah suci. Sejarah tentang keterlunta-luntaan yang Allah timpakan kepada mereka di Gurun Sinai selama empat puluh tahun lamanya, melanggar hukum-hukum Allah, mencari ikan pada hari Sabtu, dan dikutuk menjadi monyet dan babi. 1OO)
Sejarah Bani Israel sebenarnya adalah sejarah tentang kenikmatan Allah yang sangat melimpah. Allah ingin menunjukkan mereka kepada agama yang benar dan tauhid dengan mengutus para rasul dari kalangan mereka” Ia ingin menyelamatkan mereka dari kezaliman Firaun dan Haman. Ia membelah laut, menyelamatkan mereka dan menenggelamkan Firaun. Kemudian Ia memaafkan mereka setelah mereka menyembah anak sapi dan menyimpang dari ajaran-Nya. Allah membunuh mereka dengan petir, namun kemudian membangkitkan mereka lagi, agar mereka mempergunakan sisa usia mereka dengan baik. Ia menyediakan bagi mereka kehidupan yang menyenangkan. Ia menurunkan manna dan salwa. Ia memperlihatkan kepada mereka bagaimana Ia menghidupkan makhluk-makhlukNya yang telah mati. Ia memberi mereka minum, ketika mereka ditimpa kehausan di tengah padang pasir, dengan dua belas mata air, 101) Allah menginginkan agar mereka hidup terus dalam kenikmatan kebun-kebun dan mata air, serta berkedudukan mulia. Akan tetapi mereka mengganti kenikmatan Allah ini dengan kekufuran dan dosa. Allah menginginkan agar mereka masuk ke dalam Tanah Suci, namun mereka menolak dan memperlihatkan kebusukan niat dan jiwa mereka. Mereka pun kemudian mengucapkan kata-kata yang menggambarkan keangkuhan mereka terhadap Allah, rasa takut dan pengkhianatan terhadap pemimpin. Mereka berkata, “Karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah engkau berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. Al-Ma’idah: 24) Persis yang dikatakan Firaun kepada Musa a.s., “Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnyajika engkau dapat menghilangkan azab itu dari pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israel pergi bersamamu.” (QS. Al-A’raf: 134) Kata-kata sombong yang penuh kekufuran dan dosa terulang, dari Firaun kepada Musa a.s. dan dari Bani Israel kepada Musa a.s.

No comments: