BUDAYA BAHARI NUSANTARA

“Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa
Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai”
(lagu anak ciptaan Ibu Sud)
Dalam sejarah terdapat tesis bahwa kerajaan yang berhasil adalah kerajaan yang menguasai seluruh aliran sungai dari hulu sampai hilir sebab ini mengkombinasi pedalaman yang agraris dan muara sungai sampai laut yang maritim. Sejarah Indonesia telah membuktikan kerajaan-kerajaan yang berhasil semacam itu, yaitu Kahuripan Erlangga, Singhasari Kertanegara, dan Majapahit Raden Wijaya-Hayam Wuruk.
Indonesia masa kini : sektor agraris kurang terurus, mengimpor bahan pangan sering menjadi pilihan, memukul para petani kita, menguntungkan importir. Laut yang luas banyak didatangi kapal2 asing pencuri ikan dan tepi wilayah lautnya dirongrong terus banyak negara tetangga mengganggu kedaulatan wawasan Nusantara. Seharusnya kita menggali kembali kejayaan masa lalu. Masa lalu adalah benar bahwa “jalesveva jayamahe” – justru di laut kita jaya !
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, laut menghubungkan sekitar 17.580 pulau-pulaunya. Maka, seharusnya budaya bahari mengakar kuat di setiap manusia Indonesia.
Kejayaan bahari pertama dalam skala besar ditunjukkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Bagaimana konstruksi kapal mereka saat itu (abad ke-7) bisa dilihat di sebuah relief di dinding Candi Borobudur yang terkenal itu. Van Erp, seorang ahli arkeologi zaman Belanda di Indonesia, pernah khusus mempelajari sebelas relief kapal laut di candi Budha terbesar di dunia ini. Ia berkesimpulan bahwa kapal2 itu dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok : perahu lesung sederhana, perahu lesung yang dipertinggi dengan cadik, dan perahu tanpa cadik.
Bagaimana Sriwijaya bisa menguasai lautan Nusantara di wilayah seluruh Sumatra sampai Malaya sekarang adalah karena kebijaksanaannya dalam memperkerjakan suku Orang Laut yang piawai dalam teknologi pembuatan kapal dan strategi perang laut. Suku Orang Laut mendiami daerah muara sunga-sungai dan hutan bakau di pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, dan pantai barat Semenanjung Malaya. Waktu itu, Sriwijaya telah berhasil menjadi kekuatan perdana dalam sejarah Nusantara yang mendominasi wilayah sekitar perairan timur Pulau Sumatera, yang merupakan jalur kunci perdagangan dan pelayaran internasional (sampai saat ini). Ia bergerak ke perairan Laut Jawa untuk menguasai jalur pelayaran rempah-rempah dan bahan pangan hasil pertanian.
Sayang, Sriwijaya hanya negara maritim dan bukan agraris juga, maka ia tak bertahan lama. Seperti saya sebutkan di awal, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kota pelabuhan harus ditopang oleh hasil pertanian yang menjadi komoditas unggulan dari wilayah pedalaman. Ketangguhan agraria dan maritim adalah pilar-pilar utama untuk kejayaan Nusantara.
Ketangguhan agraris dan maritim pertama kali ditunjukkan oleh Singhasari di bawah pemerintahan Kertanegara pada abad ke-13. Cikal bakal kerajaan ini sejak abad ke-10 oleh Medang, Kahuripan, lalu Kediri telah punya basis yang kuat menguasai seluruh aliran sungai Brantas dari hulu sampai hilirnya, meramu kekuatan agraria dan maritim. Maka saat Kertanegara tampil, politik ekspansinya menguasai lautan Nusantara menjadi mulus.
Dalam Kakawin (babad, cerita, kitab) Negarakertagama Kertanegara telah mendengungkan perluasan cakrawala mandala ke luar Pulau Jawa, yang meliputi daerah seluruh dwipantara. Dengan kekuatan armada laut yang tidak ada tandingannya, pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan ekspedisi bahari ke Kerajaan Melayu dan Campa untuk menjalin persahabatan agar bersama2 dapat menghambat gerak maju Kerajaan Mongol ke Asia Tenggara. Tahun 1284, ia menaklukkan Bali dalam ekspedisi laut ke timur. Dua pilar utama kekuatan agraris dan maritim telah membawa Kertanegara menaklukkan : Pahang, Melayu, Gurun (Indonesia Timur), Bakulapura (Kalimantan BD), Sunda, Madura, dan seluruh Jawa. Sekalipun lautan menjadi perhatian utamanya, Kertanegara tidak pernah “luput ing madal” (lupa daratan), ia memperkuat sektor agrarianya.
Puncak kejayaan bahari tercapai pada abad ke-14 ketika Majapahit menguasai seluruh Nusantara bahkan pengaruhnya meluas sampai ke negara-negara asing tetangganya. Kerajaan Majapahit di bawah Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada telah berkembang pesat menjadi kerajaan besar yang mampu memberikan jaminan bagi keamanan perdagangan di wilayah Nusantara.
Visi dan keinginan kuat untuk membangun kerajaan yang mengedepankan kekuatan maritim dan agrarian telah menjadi tekad Raden Wijaya, anak menantu Kertanegara. Visi itu diwujudkan dengan memilih lokasi ibukota Kerajaan Majapahit di daerah Tarik di hilir sungai Brantas dengan maksud memudahkan pengawasan perdagangan pesisir dan sekaligus dapat mengendalikan produksi pertanian di pedalaman.
Penyatuan Nusantara oleh Majapahit melalui ekspedisi2 bahari dimulai tak lama setelah Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa yang terkenal itu pada tahun 1334 : tan amukti palapa, “Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa. Sira Gajah Mada lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Doran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,Tumasik, samana ingsun amukti Palapa”
Ekspansi bahari ini tercatat dalam Negara Kertagama anggitan Mpu Prapanca pada tahun 1365. Buku ini membagi wilayah kekuasaan Majapahit dalam empat kelompok wilayah : (1) wilayah2 Melayu dan Sumatera : Jambi, Palembang, Samudra dan Lamori (Aceh), (2) wilayah2 di Tanjung Negara (Kalimantan) dan Tringgano (Trengganu), (3) wilayah2 di sekitar Tumasik (Singapura), (4) wilayah2 di sebelah timur Pulau Jawa (Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku sampai Irian). Daftar lengkap nama2 wilayah taklukan Majapahit tersebut ada di buku Fruin-Mess (1919) “Geschiedenis van Java” halaman 82-84 (Fruin-Mess mengumpulkannya berdasarkan Pararaton, Negara Kertagama, dan Hikayat Raja-Raja Pasai). Fruin-Mess (1919) menulis di halaman 84 (diterjemahkan dari bahasa Belanda), “Dengan demikian, orang akan melihat bahwa luas wilayah Majapahit kurang lebih sama dengan wilayah Hindia Belanda dikurangi dengan Jawa Barat karena dalam daftar tak disebutkan nama Pasundan”
Bahkan juga terungkap dalam catatan sejarah bahwa pengaruh Kerajaan Majapahit telah sampai kepada beberapa wilayah negara asing : Siam, Ayuthia, Lagor, Campa (Kamboja), Anam, India, Filipina, China.
Keberhasilan Kerajaan Majapahit mewujudkan visi Sumpah Palapa, selain dibakar semangat kebangsaan patriotik di bawah komando Mahapatih Gajah Mada, juga banyak disumbang oleh keberhasilan Majapahit dalam mengembangkan teknologi bahari berupa kapal bercadik yang menjadi tumpuan utama kekuatan armada lautnya. Gambaran model konstruksi kapal bercadik sejak zaman Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit telah terpahat rapih pada relief Candi Borobudur seperti diterangkan di atas. Armada laut Majapahit ini didukung oleh persenjataan andalan berupa meriam hasil rampasan dari bala tentara Kubilai Khan ketika menyerang Kediri (atas tipudaya Raden Wijaya) dan roket (sekarang peluru kendali) yang ditiru Majapahit dari peralatan perang Kubilai Khan itu. Peralatan militer Majapahit ini dapat dibaca lebih lanjut di buku Jawaharlal Nehru (1964) : A Glimpses of World History – Oxford University Press, New York, atau Pramudya Toer (1998) : Hoakiau di Indonesia – Garba Budaya, Jakarta. Sementara kapal2 armada zaman Sriwijaya-Singhasari bisa dilihat di buku Anthony Reid (1996) : Indonesian Heritage : Early Modern History – Archipelago Press, Jakarta, atau Djoko Pramono (2005) : Budaya Bahari – Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Demikian, semoga kejayaan bahari masa lalu membuat kita menghargai lautan dan sekitar 17.580 pulau-pulau yang menyusun Nusantara.***

No comments: