Asal Usul Islam di Nusantara Menurut Para Peneliti Belanda

Sejarawan asal Belanda menyebut Islam di Nusantara datang dari India. Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil Sejarawan asal Belanda menyebut Islam di Nusantara datang dari India. Foto:  Makam Fatimah binti Maimun (wafat 1028 M) di Leran, Gresik, Provinsi  Jawa Timur.
Foto: Abdul Hadi WM
Sejarawan asal Belanda menyebut Islam di Nusantara datang dari India. Foto: Makam Fatimah binti Maimun (wafat 1028 M) di Leran, Gresik, Provinsi Jawa Timur.
Sejauh menyangkut kedatangan Islam di Nusantara atau Indonesia, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai empat masalah pokok. Yakni, tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, waktu kedatangannya, dan bagaimana proses penyebarannya. 

Sejumlah sarjana, kebanyakan asal Belanda, memegang teori bahwa asal-muasal Islam di Nusantara adalah Anak Benua India, bukannya Persia atau Arab. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel, ahli dari Universitas Leiden. 

Pijnappel mengaitkan asal-muasal Islam di Nusantara dengan wilayah Gujarat dan Malabar (di India). Menurut dia, orang-orang Arab bermazhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.

Teori ini kemudian dikembangkan Snouck Hurgronje yang berhujah, begitu Islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuhan di Anak Benua India, Muslim Deccan (Deccan wilayah di India) banyak di antara mereka tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara. Mereka datang ke Dunia Melayu-Indonesia sebagai para penyebar Islam pertama. 

Baru kemudian Muslim Deccan disusul orang-orang Arab, kebanyakannya keturunan Nabi Muhammad SAW karena menggunakan gelar sayyid atau syarif yang menyelesaikan penyebaran Islam di Nusantara. 

Orang-orang Arab ini muncul di Nusantara baik sebagai tokoh agama maupun sebagai tokoh agama-penguasa atau sulthan, demikian dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia Jilid 1 yang diterbitkan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015.

Snouck Hurgronje tidak menyebut secara eksplisit dari wilayah mana di India Selatan yang ia pandang sebagai asal Islam di Nusantara. Tetapi ia menyebut abad ke-12 sebagai periode paling mungkin dari permulaan penyebaran Islam di Nusantara.

Moquette seorang sarjana Belanda lainnya, berkesimpulan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Gujarat. Ia mendasarkan kesimpulan ini setelah mengamati bentuk batu nisan di Pasai yang terletak di kawasan utara Sumatera. Batu nisan itu khususnya yang bertanggal 17 Dzu Al-Hijjah 831 Hijriyah atau 27 September 1428 Masehi. 

Batu nisan yang kelihatannya mirip dengan batu nisan lain yang ditemukan yakni nisan di makam Maulana Malik Ibrahim (wafat tahun 822 H atau 1419 M) di Gresik, Jawa Timur. Ternyata nisannya sama bentuknya dengan batu nisan yang terdapat di Cambay, Gujarat (wilayah India saat ini). 

Berdasarkan contoh-contoh batu nisan ini, Moquette berkesimpulan, bahwa batu nisan di Gujarat dihasilkan bukan hanya untuk pasar lokal, tetapi juga untuk diimpor ke kawasan lain, termasuk Sumatera dan Jawa di Nusantara. Selanjutnya, dengan mengimpor batu nisan dari Gujarat, orang-orang Nusantara juga mengambil Islam dari sana.

Runtuhnya Teori yang Menentang Peneliti Belanda

Kesimpulan-kesimpulan Moquette ini ditentang keras oleh SQ Fatimi yang berargumen bahwa keliru mengaitkan seluruh batu nisan di Pasai, termasuk batu nisan Malik Al-Shalih (di Pasai) dengan batu nisan di Gujarat. 

Menurut penelitian Fatimi, bentuk dan gaya batu nisan Malik Al-Shalih berbeda sepenuhnya dengan batu nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lain yang ditemukan di Nusantara. Fatimi berpendapat, bentuk dan gaya batu nisan ini justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal (wilayah Bangladesh dan sekitarnya). 

Menurut Fatimi seluruh batu nisan itu pastilah didatangkan dari daerah Bengal. Ini menjadi alasan utama Fatimi untuk menyimpulkan bahwa asal Islam yang datang ke Nusantara dari wilayah Bengal. Dalam kaitannya dengan teori batu nisan ini, Fatimi mengritik para ahli yang kelihatannya mengabaikan batu nisan Siti Fatimah (bertahun 475 H atau 1082 M) yang ditemukan di Leran, Jawa Timur.

Teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Bengal tentu saja bisa dipersoalkan lebih lanjut. Misalnya, berkenaan dengan adanya perbedaan mazhab yang dianut kaum Muslim Nusantara yakni Syafi’i dan mazhab yang dipegang kaum Muslim Bengal yakni Hanafi. 

Tetapi, terlepas dari masalah ini, teori Fatimi yang dikemukakannya dengan begitu bersemangat gagal meruntuhkan teori Moquette, karena sejumlah sarjana lain telah mengambil-alih kesimpulannya, dan yang paling terkenal di antara mereka ini adalah Kern, Winstedt, Bousquet, Vlekke, Gonda, Schrike, dan Hall. Sebagian mereka memberikan argumen tambahan untuk mendukung kesimpulan Moquette. 

Wintedt misalnya, mengemukakan tentang penemuan batu nisan yang mirip bentuk dan gayanya di Bruas, pusat sebuah kerajaan kuno Melayu di Perak, Semenanjung Malaya. 

Wintedt berhujah, karena seluruh batu nisan di Bruas, Pasai, dan Gresik didatangkan dari Gujarat, maka Islam juga pastilah diimpor dari sana. Ia juga mencatat, Sejarah Melayu mengandung beberapa bukti yang membenarkan hal ini. Antara lain disebutkan kebiasaan di beberapa wilayah di Nusantara mengimpor batu nisan dari Gujarat. 

Schrike juga menyokong teori ini dengan menekankan signifikansi peran penting yang dimainkan para pedagang Muslim Gujarat dalam perdagangan di Nusantara dan kemungkinan andil besar mereka dalam penyebaran Islam.

Kelemahan Teori Gujarat Para Peneliti Belanda

Teori tentang Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara terbukti mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Ini dibuktikan misalnya oleh Marrison. 

Marrison berargumen, meski batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau berasal dari Bengal seperti dikemukakan Fatimi. Tapi itu tidak lantas berarti Islam juga didatangkan dari sana.

Marrison mematahkan teori ini dengan menunjuk kepada kenyataan bahwa pada masa Islamisasi Samudera-Pasai, yang raja pertamanya wafat pada tahun 698 H atau 1297 M, Gujarat masih

merupakan kerajaan Hindu. Barulah setahun kemudian (tahun 699 H atau 1298 M), Cambay, Gujarat ditaklukkan kekuasaan Muslim. 

Jika Gujarat adalah pusat Islam, yang dari tempat itu para penyebar Islam datang ke Nusantara, maka Islam pastilah telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum wafatnya Malik Al-Shalih di Pasai.

Marrison selanjutnya mencatat, meski laskar Muslim menyerang Gujarat beberapa kali. Di antaranya tahun 415 H atau 1024 M, tahun 574 H atau 1178 M, dan Tahun 595 M atau 1197 M. Raja Hindu di sana mampu mempertahankan kekuasaannya hingga tahun 698 H atau 1297 M. 

Mempertimbangkan semua ini, Marrison mengemukakan teorinya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujarat, melainkan dibawa para penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad ke-13. (Coromandel wilayah pesisir di India dekat Sri Lanka)

Teori yang dikemukakan Marrison kelihatan mendukung pendapat yang dipegang Arnold. Menulis jauh sebelum Marrison, Arnold berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara antara lain juga dari Coromandel dan Malabar. Ia menyokong teori ini dengan menunjuk kepada persamaan mazhab fikih di antara kedua wilayah tersebut. Mayoritas Muslim di Nusantara adalah pengikut mazhab Syafi’i, yang juga cukup dominan di wilayah Coromandel dan Malabar, seperti disaksikan oleh Ibnu Bathuthah ketika ia mengunjungi kawasan ini. Menurut Arnold, para pedagang dari Coromandel dan Malabar mempunyai peranan penting dalam perdagangan antara India dan Nusantara. Sejumlah besar pedagang ini mendatangi pelabuhan-pelabuhan dagang dunia Melayu-Indonesia di mana mereka ternyata tidak hanya terlibat dalam perdagangan, tetapi juga dalam penyebaran Islam.

Teori Arab: Islam Datang dari Arab ke Nusantara

Tetapi penting dicatat, menurut Arnold, Coromandel dan Malabar bukan satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tetapi juga di Arab. Dalam pandangannya, para pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijriyah atau abad ke-7 dan ke-8 Masehi. 

Meski tidak terdapat catatan-catatan sejarah tentang kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, cukup pantas mengasumsikan bahwa mereka terlibat pula dalam penyebaran Islam kepada penduduk lokal di Nusantara. Asumsi ini menjadi lebih mungkin, kalau orang misalnya, mempertimbangkan fakta yang disebutkan sumber-sumber Cina, bahwa menjelang akhir abad ke-7 seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. 

Sebagian orang-orang Arab ini dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita lokal, sehingga membentuk nucleus sebuah komunitas Muslim yang terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal. Menurut Arnold, anggota-anggota komunitas Muslim ini juga melakukan kegiatan-kegiatan penyebaran Islam.

Teori bahwa Islam juga dibawa langsung dari Arab dipegang pula oleh Crawfurd, walaupun ia menyarankan bahwa interaksi penduduk Nusantara dengan kaum Muslim yang berasal dari pantai timur India juga merupakan faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. 

Sementara itu, Keijzer memandang Islam di Nusantara berasal dari Mesir atas dasar pertimbangan kesamaan kepemelukan penduduk Muslim di kedua wilayah kepada mazhab Syafi’i, dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia Jilid 1 yang ditulis Abdul Hadi WM, Azyumardi Azra, Jajat Burhanudin, Muhamad Hisyam, Setyadi Sulaiman, Taufik Abdullah.

Teori Arab ini juga dipegang oleh Niemann dan de Hollander dengan sedikit revisi, mereka memandang bukan Mesir sebagai sumber Islam di Nusantara, melainkan Hadhramaut. Sebagian ahli Indonesia setuju dengan teori Arab ini. 

Dalam seminar yang diselenggarakan pada 1969 dan 1978 tentang kedatangan Islam ke Indonesia mereka menyimpulkan, Islam datang langsung dari Arab, tidak dari India, tidak pada abad ke-12 atau ke-13 melainkan abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 Masehi.

Di antara pembela tergigih teori Arab atau sebaliknya, penentang terkeras teori India adalah Naguib Al-Attas. Seperti Marrison, ia juga tidak bisa menerima penemuan epigrafis yang disodorkan Moquette sebagai bukti langsung bahwa Islam dibawa dari Gujarat ke Pasai dan Gresik oleh Muslim India. Ia berpendapat, batu-batu nisan itu dibawa dari India semata-mata karena jaraknya yang lebih dekat dibandingkan dengan Arab. Ia memandang, bukti paling penting yang perlu dikaji ketika membahas kedatangan Islam ke Nusantara adalah karakteristik internal Islam di Dunia Melayu-Indonesia itu sendiri.

Naguib Al-Attas mengajukan apa yang disebutnya teori umum tentang Islamisasi Nusantara, yang harus didasarkan terutama pada sejarah literatur Islam Melayu-Indonesia dan sejarah pandangan dunia Melayu seperti terlihat dalam perubahan konsep-konsep dan istilah-istilah kunci dalam literatur Melayu-Indonesia.

Al-Attas menyimpulkan, sebelum abad ke-17 seluruh literatur keagamaan Islam yang relevan tidak mencatat satu pengarang Muslim India atau karya yang berasal dari India. Pengarang-pengarang yang dipandang kebanyakan sarjana Barat sebagai berasal dari Arab atau Persia, dan bahkan apa yang disebut sebagai berasal dari Persia pada akhirnya berasal dari Arab, baik secara etnis maupun kultural. Nama-nama dan gelar-gelar para pembawa Islam ke Nusantara yang pertama menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang Arab atau Arab-Persia. 

Al-Attas selanjutnya menegaskan, "Benar bahwa sebagian karya itu ditulis di India, tetapi asal-muasalnya adalah Arab atau Persia atau karya-karya itu sebagian kecilnya berasal dari Turki atau Maghrib, dan apa yang lebih penting, kandungan keagamaannya adalah Timur Tengah, bukan India."Rol

No comments: