Kisah Sedih dan Takjub Nenek Nabi ‘Isa ‘alaihis salam

Kisah Sedih dan Takjub Nenek Nabi ‘Isa ‘alaihis salam
Adalah Hannah bin Faqud bin Qobil, seorang wanita yang ahli ibadah. Dia adalah Ibunda Maryam yang berarti pula nenek dari Nabi Isa alaihis salam. Foto ilustrasi/ist
Adalah Hannah bin Faqud bin Qobil, seorang wanita yang ahli ibadah . Dia adalah Ibunda Maryam yang berarti pula nenek dari Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Dia adalah istri Imran bin Basyim bin Amun...bin Mutsam bin "Azira...bin Sulaiman bin Daud.

Hannah dan suaminya Imran, dalam Al-Qur'an tertulis sebagai nama salah satu surat, Surat Ali Imran (keluarga 'Imran). Dalam Qashashul Anbiya karya Imam Ibnu Katsir, Allah menyebut keluarga ini adalah rumah tangga yang bersih dan suci. Hannah dikenal sebagai wanita penyabar dan berkeinginan selalu mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta'la.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰۤى اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰ لَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ  @ ذُرِّيَّةًۢ بَعْضُهَا مِنْۢ بَعْضٍ ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ  @ اِذْ قَا لَتِ امْرَاَ تُ عِمْرٰنَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَـكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ @ فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَا لَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَاۤ اُنْثٰى ۗ وَا للّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ ۗ وَ لَيْسَ الذَّكَرُ كَا لْاُ نْثٰى ۚ وَاِ نِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِ نِّيْۤ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ @ فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَا تًا حَسَنًا ۙ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَا بَ ۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَا لَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا ۗ قَا لَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ.


"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing), (sebagai) satu keturunan, sebagiannya adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Ingatlah), ketika istri `Imran berkata, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Maka ketika melahirkannya, dia berkata, "Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan." Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. "Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak-cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk. Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, "Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?" Dia (Maryam) menjawab, "Itu dari Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan."
(QS. Ali 'Imran : 33-37)

Dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir bahwa istri ‘Imran adalah wanita yang belum pernah hamil. Suatu ketika, ia melihat induk burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Wanita itu pun berkeinginan memiliki anak.

Dalam Qashash Al Qur'an, yang ditulis Abu Muhammad al-Bajawi, Muhammad Ahmad Jad al-Maula, dan Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Hannah selalu membayangkan anak yang akan membuat hidupnya ceria. Itu selalu menganggu tidurnya. Selalu mengimpikan anak yang akan membuatnya senang.

Hari-harinya membayangkan bisa melihat anaknya menatap kepadanya, menciumnya dengan kasih sayang, bercanda, bisa membuat tenteram hatinya, dan sebagainnya. Hanna mendambakan anak karena dikisahkan dia adalah seorang yang sulit mendapatkan anak (mandul).

Hari-hari berlalu, bahkan tahun demi tahun dia menunggu terealisasinya harapan ini. Bahkan ia sampai kelelahan menunggu, merasakan pahitnya putus asa dan terkadang iri hati dengan pohon yang berbuah banyak dan wanita yang memiliki anak.

Hanna menyerahkan urusan pada Rabb langit dan bumi. Bertawassul kepada-Nya dalam ketundukan dan kekhusyu'an, dan bernadzar kepada Allah bahwa jika dia memiliki anak maka anaknya akan disedekahkan kepada Baitul Maqdis untuk mengabdi menjadi pembantu di sana.

Hanna menginginkan cukuplah dia melahirkan. Demi untuk menenangkan dan memenuhi kegembiraan hatinya. Atas harapannya itu, kemudian Allah mengabulkan doanya dan memberikan permintaannya.

Ada janin yang bergerak di perutnya. Hanna pun hamil. Dan, setelah pasti kehamilannya, wanita ini bernadzar akan menjadikan anaknya kelak untuk berkhidmat di Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis.

Ketika berbinar dengan angannya, mempersiapkan kelahiran anaknya, dan mengharapkan kehidupan untuknya, tiba-tiba waktu mengubah kenyataan. Mengubah kegembiraan menjadi kesedihan, kebahagiaan menjadi kesusahan. 'Imran sang suami meninggal dunia.

Kesedihan Hanna sangat mendalam ketika ditinggal 'Imran. Air matanya mengalir deras. Hanna yang mendambakan suami bercanda dengan anak-anaknya dalam keceriaan, akhirnya pupus. Qadha' (kehendak) Allah itu pasti. Dan tidak ada yang mampu menolak qadha'nya Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Waktu terus berjalan. Hanna pun melahirkan. Tapi Qadarullah, yang terlahir adalah seorang wanita. Bukan laki-laki yang akan menunaikan nadzar untuk mengabdi pada Baitul Maqdis. Padahal wanita tidak layak untuk pengabdian tersebut

Hanna pun tertimpa mendung kesedihan yang teramat sangat. Ia menampakkan kesedihannya karena rasa putus asa. Akhirnya Hanna menamakan anaknya dengan Maryam. Dia meminta kepada Allah untuk menjaga, melindungi, dan memberikan pengasuhan kepada Maryam dengan selalu memberikan inayahNya.

Hati Hanna hancur. Wanita yang dikuasai kesedihan. Tidak bisa menunaikan nadzar. Musibah kerap melanda, hingga merasa sempit hati. Setelah bertahun-tahun menunggu momongan, ketika ada kabar dia hamil, suaminya pun meninggal. Kemudian anak yang dilahirkan pun tidak sesuai dengan yang dinadzarkan. Anaknya seorang wanita. Kesedihan memuncak di jiwa Hanna.

Hingga akhirnya Allah Ta'ala mengasihi kelemahannya. Allah terima keluhan Hanna. Menerima hibahnya yang berupa anak perempuan. Allah memberikan keridhaan bahwa Maryam digunakan sebagai pemenuhan nadzar-nya. Allah menyempurnakan nikmatNya.

Allah mengabarkan kepadanya bahwa Dia lebih mengetahui tentang apa yang dilahirkannya itu. Hanna pun gembira. Allah telah mengkhususkan Maryam dengan karomah dariNya. Hingga akhirnya membawa Maryam ke Baitul Maqdis untuk diajukan kepada Rahib. Hati Hanna menjadi tenang karena Maryam selalu dalam pengasuhan Allah.

Hanna takjub dengan kebesaran Allah Ta'ala. Lalu Maryam pun ditempatkan di salah satu mihrab Masjidil Aqsha. Di empat itulah Maryam senantiasa berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Makanan Maryam pun langsung diberikan oleh Allah Ta'ala melalui malaikat Jibril

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَا تًا حَسَنًا ۙ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَا بَ ۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَا لَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَـكِ هٰذَا ۗ قَا لَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ


"Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, "Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?" Dia (Maryam) menjawab, "Itu dari Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan."
(QS. Ali 'Imran : 37)

Dalam pengawasan Nabi Zakariya (saudara Hanna) Maryam tumbuh berkembang menjadi dewasa. Sebab keshalehan dan kesabaran Hanna itulah Allah Ta’ala memilih rahim Hanna untuk melahirkan Maryam. Yakni seorang wanita suci yang memurnikan pengabdiannya hanya untuk Allah, sebagai wanita yang kelak melahirkan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.
Wallahu A'lam
(wid)Widaningsih

No comments: