2 Doa yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada Ali bin Abi Thalib

2 Doa yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada Ali bin Abi Thalib
Nabi Muhammad SAW mengajari Ali bin Abi Thalib sejumlah doa, salah satunya doa pelunas utang. Foto/Ilustrasi: Dok SINDOnews
Rasulullah SAW telah mengajarkan sejumlah doa kepada Ali bin Abi Thalib . Doa tersebut kemudian diajarkan Ali kepada para sahabat yang lain. Berikut ini adalah 2 doa yang diajarkan Nabi Muhammad kepada menantunya itu.

اللهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

Ya Allah, berilah aku petunjuk, dan luruskanlah aku.

Dalam kitab "Syarh Thâ’ifah Min al-Ad’iyah", Syaikh Abdur Razzaq al-Abbad menjelaskan bahwa doa ini diajarkan Rasulullah SAW kepada Ali Bin Abi Thalib ra.

Hal yang terkandung di dalam doa ini ada dua permintaan agung, yaitu memohon petunjuk (al-huda) dan memohon kelurusan (as-sadad). Dan dua hal ini tidak akan diraih hamba kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya.

Syaikh Abdurrazaq menjelaskan maksud dari al-hudâ adalah mengetahui kebenaran secara rinci dan global, serta diberi taufik untuk mengikutinya secara lahir dan batin.

Sedangkan as-sadâd adalah agar sejalan dengan kebenaran, mendapatkan petunjuk dan sunnah; yaitu dengan konsekuen memegang apa yang diajarkan Rasulullah SAW.

Dalam doa ini terkandung makna firman Allah SWT.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah aku jalan yang lurus (QS Al-Fâtihah/ 1: 6)

Dan firman-Nya:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar (istiqamah), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Mahamelihat apa yang kamukerjakan. (QS Hûd/ 11: 112)

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW memberi wejangan kepada Ali, kala mengucap doa ini, agar menghayati gambaran yang diberikan Nabi SAW; yaitu menggambarkan petunjuk seperti halnya seseorang yang ditunjuki jalan yang benar kala tersesat; dan menggambarkan keadaan lurus (istiqamah) seperti halnya orang yang membidikkan anak panah, di mana ia berusaha untuk meluruskan bidikan panahnya; sehingga iapun tidak menggeser arah anak panahnya; agar bidikannya tepat dan tidak meleset.

Ini ditunjukkan sabda Nabi Muhammad SAW: "Dan mengenai petunjuk, ingat-ingatlah bagaimana engkau ditunjuki jalan yang benar (kala tersesat); dan mengenai keadaan lurus, ingat-ingatlah bagaimana (engkau) meluruskan (bidikkan) anak panah.

Maka “musafir” yang meniti jalan akhirat lebih sangat membutuhkan petunjuk-Nya, daripada butuhnya musafir dunia kepada orang yang menunjukkan jalan yang ia tuju. Demikian pula orang yang lurus istiqamah di jalan kebenaran, ia seperti halnya orang yang tepat sasaran mengenai bidikan panahnya.

Doa Pelunas Utang
Abu Wa'il meriwayatkan saat Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, seorang pria mendatanginya dan mengeluh, "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak bisa membayar utangku. Tolong bantu aku."

Kemudian Ali bin Thalib berkata, "Apakah kamu mau aku ajarkan tentang sesuatu yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, yang jika kamu membacanya maka Allah SWT akan membuat utangmu lunas meski sebesar gunung?"

Si pria mengiyakannya. Lalu Ali bin Abi Thalib menyampaikan sebuah doa, sebagaimana berikut ini:

اَللّهُمَّ اكْفِنِىْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَاَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

'Allahummakfinii bihalaalika 'an haroomika wa aghninii bi fadhlika 'amman siwaaka'

Artinya, "Ya Allah, cukupkanlah aku dengan apa yang Engkau halalkan dari apa yang Engkau karuniakan. Dan dengan karunia-Mu, jadikanlah aku tidak membutuhkan kecuali kepada Engkau." (HR Tirmidzi dan terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal)

Dalam riwayat lain doa itu berbunyi:

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرَحِيْمَهُمَا تُعْطِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُمَا وَتَمْنَعُ مَنْ تَشَاءُ, اِرْحَمْنِي رَحْمَةً تُغْنِيْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ

“Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Engkau) Yang Maha pengasih di dunia dan akhirat, dan Yang Maha penyayang di dua negeri tersebut. Engkau memberi dari keduanya kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cegah orang yang Engkau kehendaki. Kasihilah aku dengan rahmat-Mu; di mana Engkau jadikan aku cukup dengannya dengan tidak membutuhkan kasih sayang dari siapapun selain Engkau.”

Ath-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Mu’jam ash-Shaghîr dari Anas Bin Malik ra, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz ra, “Maukah Aku ajarkan kepadamu sebuah doa yang bisa engkau baca. Sekiranya engkau mempunyai utang yang besarnya seperti gunung Uhud, pastilah Allah akan menunaikan hutangmu?”

Katakanlah wahai Mu’adz,… lalu Rasulullah SAW membacakan ayat 26 Surat Ali-Imrân dan dilanjutkan dengan doa yang disebutkan di atas. Ath-Thabrani meriwayatkannya dalam Al-Mu’jam Ash-Shaghîr dengan isnad yang jayyid (bagus).

Dalam jalur yang lain dari Mu’adz bin Jabal ra, doa dari ayat di atas dilanjutkan dengan ayat selanjutnya yaitu ayat 27 dari Ali-Imrân. Baru dilanjutkan dengan ucapan: Rahmânad dunyâ… namun Syaikh Al-Albani menilainya lemah.

Nabi Muhammad SAW melarang umatnya berputus-asa dari rahmat Allah SWT dan tidak boleh menyerah serta harus meyakini bahwa semua yang terjadi itu baik. Selain itu, seorang Muslim juga harus yakin bahwa qadha dan qadar itu ada di tangan Allah.

(mhy) Miftah H. Yusufpati

No comments: